Periodic , Vol 11 No 2 (2022) Chemistry Journal of Universitas Negeri Padang e-ISSN : 2339-1197 Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Padang (UNP) Jl. Prof. Hamka, Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 25131 http://ejournal.unp.ac.id/index.php/kimia Page 27 Pengaruh Pengadukan pada Degradasi Asam Humat Menggunakan Reaktor Mobile Heksagonal Fauzan Yan Hawari, Rahadian Zainul * , Syamsi Aini, Umar Kalmar Nizar Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Negeri Padang *rahadianzmsiphd@fmipa.unp.ac.id Abstract — Humic acid is a heterogeneous organic compound that is toxic, mutagenic and carcinogenic. This study goals to degrade humic acid using the photocatalytic method. The photocatalyst used for degradation is nano ZnO doped Cu 7%. The degradation process applies sunlight using a hexagonal mobile reactor and the light intensity is measured using a lightmeter. The degradation was carried out with variation of stirring at 500 rpm and without stirring at 1, 2, 3, 4 and 5 hours of irradiation. Result of degradation analysed using UV-Vis spectrophotometer. Result obtained the degradation using stirring has a higher percentage of degradation than without stirring. The percentage maximum of degradation obtained in study was 90,09% with 500 rpm stirring at 5 hours irradiation. In this study showed the effect of stirring on humic acid degradation using a hexagonal mobile reactor. Keywords — humic acid, photocatalytic, ZnO doped Cu 7% ,stirring, percentage degradation I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negera yang memiliki lahan gambut yang cukup luas. Lahan gambut memiliki kapasitas air yang cukup tinggi yang bisa digunakan sebagai sumber air minum [1]. Penyebabnya adalah warna air gambut yang keruh karena terdapat senyawa organik didalamnya. Salah satu senyawa organik yang terkandung pada air gambut adala asam humat. Asam humat merupakan senyawa organik heterogen berbobot molekul tinggi [2]. Asam humat memiliki sifat mutagenik, karsinogenik dan non biodegradeble. Beberapa metode penghilangan asam humat dalam air gambut yaitu adsorpsi, koagulasi, elektrokoagulasi dan fotokalisis. Menurut literatur hasil yang baik ditunjukan pada penghilangan asam humat pada air gambut menggunakan metode fotokatalisis dengan persen degradasi mencapai 90% [3]. Fotokatalisis merupakan reaksi penguraian senyawa organik oleh cahaya dengan adanya fotokatalis proses reaksinya. Degradasi suatu senyawa organik dalam air dapat terjadi ketika dipapari oleh cahaya dengan panjang gelombang yang pendek dan energinya besar karena terjadinya proses fotolisis air. Fotokatalis merupakan zat yang dapat mempercepat reaksi jika adanya cahaya. Fotokatalis biasanya berupa semikonduktor yang memiliki band gap energi sebesar 1-4 eV [4]. Adapun beberapa semikonduktor yang biasa digunakan dalam proses degradasi asam humat yaitu TiO 2 , ZnO, CuO dan Fe 2 O 3 . ZnO merupakan semikonduktor yang memiliki kelebihan sehingga dapat digunakan dalam proses degradasi asam humat dalam air. Kelebihan ZnO yaitu sifat fotokimia yang baik, sifat oksidasi yang tinggi serta murah dan non toksinitas [5]. ZnO memiliki band gap energi sebesar 3.37 eV [6]. Band gap energi yang tinggi, sehingga eksitasi elektron pada ZnO dapat terjadi ketika menyerap cahaya dengan panjang gelombang <368 nm. Eksitasi elektron yang terjadi ini akan mengahasilkan radikal hidroksil (●OH) sebagai agent pendegradasi asam humat. Sehingga dalam pengaplikasian ZnO dalam degradasi asam humat dilakukan menggunakan cahaya UV. Pendegradasian asam humat menggunakan cahaya UV memiliki beberapa kelemahan yakni biaya yang mahal, serta cahaya UV yang berbahaya ketika terpapar kulit [7]. Modern ini, para peneliti mencoba mendegradasi asam humat dengan menggunakan cahaya matahari. Cahaya matahari memiliki kelebihan, tidak berbahaya jika terpapar dan dapat diperoleh dengan mudah serta tanpa menggunakan biaya [8]. Degradasi asam humat menggunakan cahaya matahari, ZnO harus memiliki band gap energi yang lebih rendah. Band gap energi yang rendah membuat ZnO tidak membutuhkan panjang gelombang cahaya yang pendek >368 nm. Upaya menurunkan band gap energi ZnO dengan cara mendoping dengan ion logam. Ion logam tembaga (Cu 2+ ) diketahui dapat menurunkan band gap energi ZnO. Ion Cu 2+ juga dapat meningkatkan sifat oksidasi dan fotokatalitik dari ZnO [9]. Kinerja ZnO juga dapat ditingkatkan dengan mensintesis ZnO yang didoping dengan ion Cu 2+ dalam ukuran nano partikel [10]. Ukuran nano partikel akan membuat luas permukaan dari fotokatalis semakin besar. Proses doping yang efektif dalam pembuatan ZnO doping Cu 2+ dalam ukuran nano partikel dilakukan dengan metode sol gel [11]. Proses ini diawali dengan pembentukan sol dan kemudian dilanjutkan gel serta dikalsinasi sehingga terbentuk ZnO doping Cu 2+ dalam ukuran nano partikel.