1589 Proses Penalaran Analogi Siswa Impulsif Dalam Memecahkan Masalah Bangun Ruang Sisi Lengkung Diyah Ayu Rizki Pradita 1 , Dwiyana 1 , Sisworo 1 1 Pendidikan Matematika-Universitas Negeri Malang INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Diterima: 10-05-2019 Disetujui: 09-12-2019 Abstract: The aim of the study was to describe the process of reasoning analogy of students impulsive in solving problems in constructing build arches. This type of research is a qualitative descriptive study using Sternberg's stage. The subjects in this study were three students of class X. The instruments used were MFFT, TKM, TPABRSL, and interview guidelines. The results of indicate that impulsive students are highly capable and are able to pass the encoding and inferring stages. However, students who are capable are not doing the mapping and applying stages correctly. Whereas low-ability impulsive students cannot pass all stages. Abstrak: Tujuan penelitian adalah menggambarkan proses penalaran analogi siswa impulsif dalam memecahkan masalah bangun ruang sisi lengkung. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan tahapan penalaran analogi menurut Sternberg. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga siswa kelas X. Instrumen yang digunakan adalah tes MFFT, tes kemampuan matematika, tes penalaran analogi bangun ruang sisi lengkung (TPABRSL) dan pedoman wawancara. Hasil dari TPABRSL menunjukkan bahwa siswa impulsif berkemampuan tinggi dan sedang mampu melewati tahap encoding dan inferring. Akan tetapi, siswa berkemampuan sedang tidak melakukan tahap mapping dan tahap applying dengan benar, sedangkan siswa impulsif berkemampuan rendah tidak mampu melewati seluruh tahapan. Kata kunci: analogy reasoning; impulsive students; build curved side spaces; penalaran analogi; siswa impulsif; bangun ruang sisi lengkung Alamat Korespondensi: Diyah ayu Rizki Pradita Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang E-mail: dhitaarizki@gmail.com Pendidikan merupakan salah satu alat untuk meningkatkan taraf kehidupan bangsa. Pada dasarnya, pendidikan merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dapat ditempuh salah satunya di bangku sekolah. Mata pelajaran yang wajib dipelajari siswa mulai jenjang dasar hingga perguruan tinggi yaitu matematika. Penguasaan matematika sejak dini diperlukan untuk dapat menguasai dan mencipta teknologi di masa depan (BSNP, 2008). Selain itu, tujuan pembelajaran matematika membantu siswa dalam menggunakan kemampuan bernalar pada pola dan sifat, mampu membuat generalisasi pada saat melakukan manipulasi matematika. NCTM (2000) juga menjelaskan bahwa standar proses pembelajaran matematika, meliputi pemecahan masalah, penalaran dan pembuktian, koneksi, komunikasi, dan representasi. Hal tersebut dikarenakan penalaran merupakan salah satu kemampuan yang menjadi target dalam pembelajaran matematika. Herbert (2009) menjelaskan penalaran digambarkan untuk memikirkan hal yang logis dalam bertindak, seperti menganalisis, membuktikan, mengevaluasi, menjelaskan, membenarkan, menyimpulkan, dan membuat generalisasi pada diskusi matematika. Menurut pemikiran (Mikrayanti, 2012) menyebutkan penalaran sebagai kegiatan menyimpulkan argumen yang dihasilkan melalui langkah-langkah tertentu berdasarkan prinsip-prinsip yang telah diakui kebenarannya sebagai upaya memperlihatkan hubungan dua hal atau lebih. Salah satu variansi penalaran yang dapat digunakan untuk bernalar adalah dengan menggunakan penalaran matematis. Mofidi, dkk. (2012) menjelaskan bahwa penalaran matematis secara garis besar dibagi menjadi tiga, yaitu penalaran induktif, penalaran deduktif, dan penalaran analogi. Penalaran induktif merupakan proses kegiatan bernalar dari aturan-aturan atau hal-hal yang mempunyai ketentuan bersifat khusus untuk diturunkan menjadi sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran deduktif adalah proses kegiatan bernalar yang diperoleh dari pengetahuan-pengetahuan yang bersifat umum untuk diturunkan menjadi hal-hal yang bersifat khusus, sedangkan penalaran analogi adalah proses kegiatan bernalar yang dihasilkan dari kesamaan dua hal atau lebih dan memahami konsep yang baru dikaitkan dengan konsep matematika yang dimiliki sebelumnya. Dalam penelitian ini, peneliti akan fokus pada penalaran analogi siswa karena penalaran analogi memegang peranan penting untuk membentuk kemampuan matematis siswa. Tersedia secara online http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ EISSN: 2502-471X DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 4 Nomor: 12 Bulan Desember Tahun 2019 Halaman: 1589—1595