Filsafat Ilmu dalam Era Kecerdasan Buatan: Tantangan dan Peluang M. Rhifky Wayahdi 1 , Mahyuddin K. M. Nasution 2 1,2 Program Studi Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Sumatera Utara 1 muhammadrhifkywayahdi@gmail.com, 2 mahyuddin@usu.ac.id Abstrak Kecerdasan Buatan (AI) telah mengalami perkembangan yang pesat dan berpengaruh signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang penelitian, kesehatan, dan pendidikan. Artikel ini membahas tantangan dan peluang yang dihadapi oleh filsafat ilmu dalam konteks kemajuan AI. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi pertanyaan epistemologis mengenai validitas pengetahuan yang dihasilkan oleh algoritma AI, isu etika dan tanggung jawab terkait kesalahan yang mungkin terjadi, serta perubahan paradigma ilmiah yang memerlukan integrasi AI tanpa mengorbankan integritas penelitian. Di sisi lain, AI juga menawarkan peluang untuk inovasi dalam metode penelitian, mendorong dialog interdisipliner antara filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta memberikan ruang untuk refleksi kritis terhadap asumsi-asumsi yang mendasari pengembangan teknologi. Dengan pendekatan yang kritis dan reflektif, filsafat ilmu berperan penting dalam memahami dan mengevaluasi dampak AI, serta membimbing pengembangan dan penerapan teknologi ini agar sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan ilmiah yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai interaksi antara AI dan filsafat ilmu, serta implikasi etis dan epistemologis yang muncul dari penggunaan teknologi ini. Kata kunci: Filsafat ilmu, Kecerdasan buatan, Epistemologi, Etika, Tantangan dan peluang. Pendahuluan Kecerdasan Buatan (artificial intelligence) atau biasa kita kenal dengan AI terus mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga mampu mengubah kebiasaan hidup manusia. Berbicara tentang AI, sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup yang lebih luas yaitu ilmu komputer. Ilmu komputer merupakan cabang ilmu disiplin teknologi yang bertujuan menciptakan tools pemecahan masalah [1]. Dalam AI tertanam algoritma yang mampu belajar secara mandiri [2][3], sehingga memungkinkan untuk mengelola dan menyebarkan pola data atau informasi, mengevaluasi dirinya sendiri [2], serta melakukan penalaran dan mengambil keputusan [4] layaknya manusia [5]. Namun, AI tidak bisa menghasilkan ide-ide baru, hanya mampu mengelola dan mengembangkan ide orang lain [6]. AI dapat dijelaskan sebagai kumpulan dari banyak teknologi [7]. Teknologi berbasis AI semakin diminati para peneliti [8] untuk diimplementasikan pada banyak bidang riset [9], misalnya prediksi performa mahasiswa [2], diagnosa penyakit kanker [10], mencari rute atau jalur terpendek [11], klasifikasi gambar [12], prediksi suhu [13], kesehatan dan edukasi [4], dan lain sebagainya. Untuk keberlanjutan, tampaknya teknologi AI ini