Fogging dan Alternatif Lainnya Dalam Menyelesaikan Masalah Chikungunya yang Marak Terjadi Weka Rezyana, Muhammad Ali Sodik, MA Universitas Strada Indonesia wekarez15@gmail.com, alisodik2012@gmail.com Abstrak Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Chikungunya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kasus Chikungunya di Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan keresahan di masyarakat. Pemerintah merespons dengan melakukan fogging atau pengasapan insektisida untuk menekan populasi nyamuk dewasa. Namun, efektivitas fogging masih diperdebatkan karena metode ini hanya membunuh nyamuk dewasa tanpa mengatasi telur dan larva, sehingga populasi nyamuk dapat kembali meningkat dalam waktu singkat. Selain itu, penggunaan insektisida berisiko menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, seperti gangguan pernapasan serta pencemaran ekosistem. Oleh karena itu, diperlukan metode alternatif yang lebih efektif dan berkelanjutan, seperti penerapan 3M Plus (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang tempat perkembangbiakan nyamuk), penggunaan tanaman pengusir nyamuk, serta inovasi berbasis teknologi seperti bakteri Wolbachia. Metode ini dianggap lebih aman bagi manusia dan lingkungan dalam jangka panjang. Studi ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam pengendalian vektor Chikungunya untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit secara berkelanjutan . Kata Kunci: Fogging, Chikungunya, Penyebaran 1. Latar Belakang Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Chikungunya dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi di Tanzania pada tahun 1952 dan sejak itu telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia, Afrika, dan Amerika. Chikungunya sering kali menyebabkan gejala yang mirip dengan demam berdarah dengue, seperti demam tinggi, nyeri sendi yang hebat, ruam kulit, serta kelelahan yang berkepanjangan. Meskipun jarang menyebabkan kematian,