Imagologi Spiritual ( Mengenang Kepemimpinan Kharismatik Pdt. Petrus Agung Purnomo) Oleh : Fibry Jati Nugroho ABSTRAK Pendeta Petrus Agung Purnomo merupakan salah seorang tokoh yang fenomenal sewaktu hidup, maupun pada saat meninggalnya. Kepemimpinan kharismatis menjadikan salah satu faktor dari keberhasilan pelayanannya. Berkenaan dengan kepemimpinan tersebut, bagaimana imagologi yang ditampilkan dari sosok kharismatis tersebut? Dengan menggunakan pendekatan kualitatif didapatkan bahwa “anak didik” dari Sang Pemimpin kharismatik, melakukan imagologi dengan mengimitasi tindakan “atraktif” sewaktu melayani. Imitasi tersebut meliputi gaya bahasa, olah tubuh dan gaya berpakaian. Ketiga hal tersebut akhirnya menjadikan standar untuk mengukur tingkat kerohanian di kalangannya. Imagologi tanpa identifikasi dan interaksi yang tidak mendalam akan menimbulkan stigmatisasi spiritual dengan pemahaman yang sangat dangkal. Oleh sebab itu diperlukan interaksi dan edukasi, supaya imagologi spiritual dapat terkikis, dan mengembalikan makna dasar tentang kehidupan spiritual di dalam gereja. Kata kunci: Imagologi, Kepemimpinan, Kharismatik, Imitasi, Spiritual PENGANTAR Dewasa ini, kehidupan manusia ber-kembang dengan pesat. Teknologi sebagai motor penggerak yang siap melaju dengan cepat seiring perkembangan dunia yang semakin menua. Perkembangan yang pesat membuat kehidupan masyarakat se- makin “menggila”, mengikuti arus perkembangannya. Hidup manusia yang kecanduan dan ketergantungan dengan teknologi, menggerus ke-hidupan sosialnya. Manusia menjadi egosentris dan acuh dengan kehidupan sesamanya. Alhasil, segala macam cara digunakan untuk mempertahan-kan kehidupannya. Mengutip istilah yang di- populerkan oleh Thomas Hobbes, Homo homini Lupus menjadi sebuah fakta sosial yang dapat dijumpai pada zaman sekarang. Dengan berbagai cara manusia berjuang untuk mempertahan-kan kehidupan, walaupun mengorban-kan sesamanya. Kehidupan sosial menjadi sebuah panggung pertunjuk-kan yang diperankan oleh manusia. Peran antagonis dan protagonis silih berganti diperankan oleh seseorang. Realitas sosial ini selaras dengan apa yang dipopulerkan oleh Aristoteles (350-429SM) yang dikenal dengan istilah dramaturgi. Istilah ini kemudian ber-kembang dan menjadi sebuah grand teori yang diikuti oleh beberapa tokoh diantaranya Erving Goffman. Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya, “The Pre-sentation of Self In Everyday Life”. Buku tersebut menggali segala macam perilaku interaksi yang dilakukan dalam pertunjukan kehidupan sehari-hari, yang menampilkan diri sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain, dalam sebuah pertunjukan drama. Tujuan dari presentasi dari Diri-Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Konsep dramaturgi memung- kinkan seseorang untuk mengembang-kan pola perilaku yang sesuai dan mendukung perannya. Interaksi antar individu yang dijadikan titik berat dari pengembangan konsep ini. Dalam interaksi tersebut individu dapat berperan memainkan perannya di panggung kehidupannya. Peran ter-sebut dapat berupa penokohan yang diikuti gestur dan mimik wajah sebagai pelengkapnya. Penokohan ini menjadi penting dan sering dilakukan oleh setiap orang. Dalam perkem-bangannya, dramaturgi berubah men-jadi sebuah imagologi yang banyak diperankan oleh para tokoh utama dalam kehidupan manusia.