MELESTARIKAN BUDAYA BANYUMASAN E-ISSN: 2580-4456 P-ISSN: 2580-9334 Copyright © 2023 43 MELESTARIKAN BUDAYA BANYUMASAN MELALUI DIALEK BAHASA NGAPAK Isrofiah Laela Khasanah Universitas Cokroaminoto Yogyakarta isrofiah75@gmail.com Heri Kurnia Universitas Cokroaminoto Yogyakarta herikurnia312@gmail.com ABSTRAK Orang Banyumas, yang populer disebut wong Banyumasan, dikenal luas sebagai sosok yang unik dan berbeda dibandingkan dengan masyarakat Jawa lainnya. Perbedaan khusus terletak pada logat yang mereka gunakan yaitu bahasa ngapak. Disebut ngapak karena pengucapannya vokal “a” dan “o” serta konsonan b, d, k, g, h, y, k, l dan w yang tetap dan tidak mengambang atau setengah- setengah, seperti yang biasa ditemui pada bahasa Jawa baku. Wong Banyumasan yang terdiri dari Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen menjadikan dialek ngapak sebagai identitas budaya mereka. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dengan mencari database dari berbagai referensi, seperti jurnal penelitian, review jurnal, dan data-data yang berkaitan dengan budaya banyumasan terkhususnya bahasa ngapak. Analisis data untuk penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialek ngapak merupakan pengembangan pemikiran atau persepsi dalam kaitannya dengan pola yang ada pada dialek ngapak itu sendiri. Pandangan masyarakat budaya Banyumasan terhadap dialek ngapak yaitu merupakan identitas budaya Banyumasan yang unik, keren dan kaya, serta berpotensi jika dikembangkan. Penggunaan dialek ngapak dalam kehidupan sehari-hari wong Banyumasan masih tetap menunjukkan konsistensi mereka untuk tidak menyerah dan tetap melestarikan identitas budayanya. Kata kunci : budaya Banyumasan; dialek ngapak; identitas budaya ABSTRACT The Banyumas people, who are popularly called wong Banyumasan, are widely known as unique and different figures compared to other Javanese people. The special difference lies in the accent they use, namely the ngapak language. It is called ngapak because the pronunciation of the vowels "a" and "o" and the consonants b, d, k, g, h, y, k, l and w are fixed and not floating or half-assed, as is usually found in standard Javanese. Wong Banyumasan, which consists of Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap and Kebumen regencies, makes the ngapak dialect their cultural identity. This research uses a literature study method with a qualitative descriptive research type. The data in this study used secondary data by searching databases from various references, such as research journals, journal reviews, and data related to Banyumasan culture, especially the Ngapak language. Data analysis for this study used descriptive qualitative and analytical descriptive methods. The results of the research show that the Ngapak dialect is the development of thoughts or perceptions in relation to the patterns that exist in the Ngapak dialect itself. The view of the Banyumasan cultural community on the Ngapak dialect is that it is a Banyumasan cultural identity that is unique, cool and rich, and has the potential to be developed. The use of the ngapak dialect in the daily life of the Banyumasan people still shows their consistency not to give up and to preserve their cultural identity. Keywords: Banyumasan culture; Ngapak dialect; cultural identity KULTURISTIK: Jurnal Bahasa dan Budaya Vol. 7, No. 2, Juli 2023, 43-53 Doi: 10.22225/kulturistik.7.2.7135