1 TERAPI OKUPASI UNTUK KEMANDIRIAN PADA ANAK PENDERITA DOWN SYNDROME DI SUKAJADI Siti Julia Sari 1 , Triana Aprilia 2 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Fakultas Psikologi Corresponding Author: juliasari140704@gmail.com, ABSTRACT Down Syndrome is a congenital physical disorder accompanied by mental retardation from birth caused by abnormal chromosome development in the sufferer. Down syndrome cannot be cured, but sufferers can carry out their activities independently. Independence is one of the tasks that needs to be done by someone to facilitate the survival of life, including people with Down Syndrome. To achieve this independence, the ability to coordinate gross and fine motor, cognitive and language skills is needed, one of which can be realized by doing occupational therapy. Occupational therapy comes from the word “occupational”, which means activity, and “theraphy”, which means healing or recovery. Therefore, occupational therapy is the process of healing through activity. This study aims to determine the impact of occupational therapy for independence in Down Syndrome children. This research was conducted in Sukajadi using a qualitative approach with a descriptive type. Data collection was carried out using observation and interview methods conducted directly for 3x meetings accompanied by the implementation of occupational therapy on the NS subject. The result of this study is that the subject (NS) can perform eating and drinking activities independently. Keywords: Down Syndrome, Occupational Therapy, Independence. ABSTRAK Down Syndrome merupakan gangguan fisik secara bawaan disertai adanya keterbelakangan mental dari lahir yang disebabkan oleh abnormalitas perkembangan kromosom pada penderitanya. Down syndrome tidak bisa disembuhkan, tetapi penderita dapat melaksanakan kegiatan nya dengan mandiri. Kemandirian adalah salah satu tugas yang perlu dilakukan oleh seseorang untuk memperlancar keberlangsungan hidup tidak terkecuali pada penderita Down Syndrome. Untuk mencapai kemandirian tersebut, diperlukan kemampuan untuk mengkoordinasikan motorik kasar dan halus, kognitif dan kemampuan dalam bahasa salah satunya dapat diwujudkan dengan melakukan terapi okupasi. Terapi okupasi berasal dari kata "occupational", yang berarti aktifitas, dan "theraphy", yang berarti penyembuhan atau pemulihan. Oleh karena itu, terapi okupasi adalah proses penyembuhan melalui aktifitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari terapi okupasi untuk kemandirian pada anak Down Syndrome. Penelitian ini dilakukan di Sukajadi dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara yang dilakukan secara langsung selama 3x pertemuan disertai dengan pelaksanaan terapi okupasi terhadap subjek (NS). Hasil dari penelitian ini adalah subjek NS dapat melakukan kegiatan makan dan minum secara mandiri. Kata kunci: Down Syndrome, Terapi Okupasi, Kemandirian. PENDAHULUAN Secara harfiah, Syndrome berarti gejala atau tanda yang muncul bersama- sama. Namun, kata "Down" yang digunakan berasal dari nama seorang dokter Ingris John Langdon Down. Menurut Wiyani (dalam Ayu, 2015) Down Syndrome merupakan gangguan fisik secara bawaan disertai adanya keterbelakangan mental dari lahir yang disebabkan oleh abnormalitas perkembangan kromosom pada penderitanya. (Ayu, 2022). Hal ini terjadi karena ada kelainan susunan kromosom ke 21 dari 23 kromosom manusia. Manusia memiliki kromosom sebanyak 23 dan berpasangan dengan total keseluruhan terdapat 46