1 Gagal Move On (GAMON) Dalam Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre Wahyu Trisno Aji Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta wahyutrisnoaji@gmail.com Abstrak, artikel ini bertujuan menjelaskan fenomena gagal Move On atau GAMON dalam perspektif filsafat eksistensialisme dari Jean Paul Sartre. Cinta tidak selalu membawa kebahagiaan, karena dalam perspektif Jean-Paul Sartre, cinta justru bisa menjadi paradoks yang membelenggu kebebasan individu. Sartre melihat cinta sebagai hubungan yang membuat seseorang kehilangan identitasnya, terikat oleh kehendak orang lain, sehingga kebebasan eksistensialnya terancam. Hal ini juga tercermin dalam fenomena gagal Move On (GAMON), di mana seseorang terjebak dalam bayang-bayang cinta masa lalu, kehilangan kebebasan, dan mengalami krisis identitas. Dalam pandangan eksistensialisme, keadaan ini menjadikan individu sebagai objek yang terisolasi, bukan lagi subjek yang bebas menentukan eksistensinya sendiri. Kata kunci : cinta, eksistensialisme, GAMON Latar Belakang Manusia hidup dalam kekuatan sosial, sebutan ini kemudian dikuatkan dengan manusia sebagai mahkluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, mereka membutuhkan manusia lain untuk berinteraksi, manusia sebagai makhluk saling berinteraksi satu sama lain untuk menjalin sebuah kerja sama mencapai tujuan, dengan kerja sama inilah kepentingan bisa lebih cepat terselesaikan. Manusia melangkah saling mengenal satu sama lain, penyebutan makhluk sosial ini jelas memberikan jawaban bahwa manusia memang saling membutuhkan satu sama lain. Lebih spesifik lagi, saling peduli dan saling membantu ini tentu tidak sekedar bersifat pragmatis, namun pula dalam bagian eksistensialis. Bahwa kehadiran diri sendiri membutuhkan kehadiran orang lain, dalam arti kata tidaklah ada atas diriku sendiri jika tidak ada orang lain sehingga orang lain menentukan diriku ada. Pandangan