347 TOKOH WANITA PROFEMINIS DAN KONTRAFEMINIS DALAM NOVEL FIRDAUS YANG HILANG KARYA MIRA W Oleh: Meilisa Syahfitri 1 , Abdurahman 2 , Andria Catri Tamsin 3 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Padang email: mm.melsya@yahoo.com ABSTRACT The purposeof this studyweredescribe: (1) self-image and social image profeminis character women, (2) self-image and social image kontrafeminis character women. The data of this study were female character and image of women. Sources of data in this study is novel Paradise Lost MiraW works published by PT Gramedia Pustaka Utama in 2010. Data collected with descriptive methods and techniques detailed description. The study's findings are image profeminis figures in the novel Paradise Lost, among others Wiwiek Sartono, Tina and Lina. The characters in the novel kontrafeminis Paradise Lost, among others Lestari Prihatini, Mother, Intan Inawati, Lila and Bi Umi. Images of women in this novel consists of : (1) women's self- image that reflects the character of adult women who choose and determine attitudes and feelings through reasonableness, (2) the social image of women that reflects the character is good or bad behavior of leaders in the community. Kata kunci: profeminis, kontrafeminis, novel A. Pendahuluan Kaum wanita sering dianggap sebagai makhluk yang diciptakan hanya untuk mengurusi rumah tangga. Wanita kurang mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya menjadi seseorang yang mampu berkarir seperti halnya laki-laki. Kurangnya pengakuan terhadap kemampuan sebagai seseorang yangbisa berkarir menimbulkan permasalahan dalam diri wanita itu sendiri, karena wanita juga ingin mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Sejak tahun 1920-an sampai sekarang sastra Inonesia memperlihatkan permasalahan yang seirama dengan perkembangan sosial dengan kebudayaan bangsa Indonesia, salah satu permasalahan yang cukup Indonesia diperlihatkan sastrawan dan diproyeksikan dalam karya sastra adalah masalah feminisme.Selama ini, wanita selalu berada di belakang laki-laki. Hal inilah yang membangkitkan semangat kaum wanita untuk menuntut keadilan dan persamaan hak. Para feminis menjunjung tinggi wanita yang tidak menikah dan tidak melahirkan bayi. Para feminis juga mendukung wanita yang beraktifitas di luar rumah. Wanita yang merasa puas dan bahagia dengan hanya semata-mata mengurus keluarga dan rumah tangganya akan ditentang oleh para feminis. Sebaliknya, wanita yang bercita-cita untuk dengan berbagai cara mengembangkan diri menjadi manusia yang mandiri lahir dan batin didukung oleh gerakan feminis (Djajanegara, 2003:50). 1 Mahasiswa penulis skripsi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, wisuda periode Maret 2013 2 Pembimbing I, Dosen FBS Universitas Negeri Padang 3 Pembimbing II, Dosen FBS Universitas Negeri Padang