J.Food Pharm.Sci. 2022, 10(3), 754-762 www.journal.ugm.ac.id/v3/JFPA Original Article Analisis Profil Minyak Atsiri Daun Kayu Putih (Melaleuca leucadendra L.) dan Produk di Pasaran Nawwar Irfan, Laela Hayu Nurani*, Any Guntarti, Nina Salamah, Citra Ariani Edityaningrum Fakultas Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Indonesia *Corresponding author: Laela Hayu Nurani | Email: laela.farmasi@pharm.uad.ac.id Received: 5 October 2022; Revised: 21 December 2022; Accepted: 26 December 2022; Published: 31 December 2022 Abstract: Minyak kayu putih merupakan salah satu minyak atsiri yang biasa digunakan dalam sehari-hari. Produksi dalam negeri hanya dapat memproduksi minyak kayu putih 650 ton/tahun dari permintaan kebutuhan dalam negeri dalam setahun sebesar 3.500 ton sehingga memacu pemalsuan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan profil minyak kayu putih hasil destilasi dengan minyak kayu putih yang ada di pasaran berdasarkan mutu Standar Nasional Indonesia (SNI). Destilasi minyak atsiri dilakukan dengan 5 kg daun kayu putih menggunakan metode destilasi uap air selama 3 hari didapatkan rendemen sebesar 2,32 % v/b. Minyak kayu putih hasil destilasi dan minyak produk A, B, dan C dilakukan pengujian profil minyak berdasarkan SNI 06-3954-2006 meliputi warna, bau, bobot jenis, indeks bias, kelarutan dalam etanol 70 %, dan profil KLT. Hasil pengamatan organoleptis minyak hasil destilasi, produk A, B, dan C memiliki perbedaan warna, bobot jenis, dan kelarutan dalam etanol 70% serta tidak ada perbedaan bau dan indeks bias. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan profil minyak produk A, B, dan C dengan tidak memenuhi SNI pada pengujian bobot jenis pada produk C. KLT dengan menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak toluen 100 %. Profil KLT pada produk C tidak terlihat noda yang sama dengan standar eucalyptol yang diperlihatkan oleh minyak lainnya. Keywords: Analisis profil, Eucalyptol, Minyak kayu putih, SNI 06-3954-2006 1. PENDAHULUAN Minyak atsiri adalah salah satu hasil metabolisme pada tanaman yang digunakan sebagai bahan pertahanan atau untuk menghalau serangan dari luar. Minyak atsiri biasa bersifat mudah menguap, beraroma khas, dan larut dalam pelarut organik [1], [2]. Minyak atsiri kayu putih dihasilkan dari tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendra L.) [2], [3]. Minyak atsiri kayu putih berasal dari daun tanaman kayu putih yang dihasilkan melalui proses penyulingan. Metode penyulingan yang biasa digunakan adalah destilasi air, destilasi uap air, dan destilasi uap [4]. Kandungan utama minyak kayu putih adalah 1,8-Cineole (Eucalyptol) yang merupakan salah satu senyawa monoterpen. Kandungan minyak kayu putih selain didominasi 1,8-cineole (44,76–60,19%) terdapat senyawa lain seperti senyawa α-terpineol (5,93-12,45%), d(+)-limonene (4,45– 8,85%), dan β-caryophyllene (3,78-7,64%). Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan beberapa varietas tanaman kayu putih di pulau Jawa yaitu pada daerah Gunung Kidul (D.I. Yogyakarta), Gundih (Jawa tengah), dan Sukun (Jawa Timur) [5]. Kandungan utama minyak atsiri kayu putih banyak terdapat di dalam daun. Daun tanaman kayu putih memiliki khasiat secara empiris pada pengobatan gejala penyakit seperti batuk, pilek, mual, dan muntah. Daun nya dapat digunakan setelah dihancurkan atau dibakar terlebih dahulu, dihirup langsung baunya, dan diminum air rebusan dari daun kayu putih tersebut [6]. Senyawa 1,8-Cineole memiliki beberapa khasiat secara klinis dalam mengobati penyakit infeksi saluran pernapasan seperti influenza [7]–[9] serta meringankan sesak napas pada pasien asma bronkial [10]. Penelitian kandungan 1,8-Cineole pada minyak kayu putih memiliki potensi menghambat virus penyebab Covid-19 [11], [12].