Journal of Telenursing (JOTING) Volume 3, Nomor 2, Desember 2021 e-ISSN: 2684-8988 p-ISSN: 2684-8996 DOI: https://doi.org/10.31539/joting.v3i2.2989 777 DAMPAK RELAKSASI OTOT PROGRESIF DENGAN BAHASA DAERAH TERHADAP STRES KELUARGA DENGAN ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI SKIZOFRENIA Reflin Mahmud 1 , Achir Yani S. Hamid 2 , Herni Susanti 3 , Ice Yulia Wardani 4 Universitas Indonesia 1,2,3,4 reflinm8@gmail.com 1 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari relaksasi otot progresif menggunakan bahasa daerah terhadap stres keluarga yang merawat anggota keluarga yang mengalami skizofrenia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Case Report dengan pre-posttest. Hasil penelitian menunjukan bahwa Relaksasi Otot Progresif dengan menggunakan Bahasa Daerah dapat menurunkan stres keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami skizofrenia. Simpulan, penerapan intervensi relaksasi otot progresif dengan bahasa daerah dapat membantu keluarga yang mengalami stres dalam merawat anggota keluarga dengan skizofrenia. Kata Kunci: Bahasa Daerah, Gorontalo, Keluarga, Relaksasi Otot Progresif, Skizofrenia, Stres ABSTRACT This study aims to determine the impact of progressive muscle relaxation using regional languages on family stress who care for family members who experience schizophrenia. The method used in this research is Case Report with a pre-posttest. The results showed that Progressive Muscle Relaxation using Regional Languages could reduce family stress in caring for family members who experience schizophrenia. In conclusion, progressive muscle relaxation interventions with regional languages can help families experiencing stress in caring for family members with schizophrenia. Keywords: Regional Language, Gorontalo, Family, Progressive Muscle Relaxation, Schizophrenia, Stress PENDAHULUAN Skizofrenia merupakan sindrom atau kumpulan berbagai gejala yang menyebabkan masalah kejiwaan yang sangat serius (Wardani & Dewi, 2018). Sekitar 21 juta orang terkena skizofrenia, 35 juta orang mengalami depresi, 60 juta orang terkena bipolar dan yang terkena demensia yaitu sekitar 47,5 juta orang (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2021). Di Indonesia, prevalensi skizofrenia sekitar 1,7 per 1000 penduduk Indonesia atau mencapai 400,000 orang. Di Gorontalo, data Provinsi untuk skizofrenia sekitar 84,184 jiwa, sedangkan Kabupaten Gorontalo sekitar 27,804 jiwa, merupakan jumlah terbanyak dari seluruh kabupaten di Gorontalo (Kementerian Kesehatan RI, 2018).