15 Volume 33 No. 1 Maret 2023 SINTA 5 Evaluasi Manajemen Risiko Pelaksanaan Konstruksi Gedung Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Paniai Provinsi Papua Intan Yunita Datu Mangngiri’ 1) , Syahril Taufik 2) 1) Magister Teknik Sipil, Fakultas Pascasarjana, Institut Sains Teknologi Nasional 2) Dosen Magister Teknik Sipil, Fakultas Pascasarjana, Institut Sains Teknologi Nasional Email: Intanyunitadatumangngiri@gmail.com, syahril_taufik@istn.ac.id Abstrak This paper discusses the analysis in evaluating the risk management of hospital building construction using the Analytic Hierarchy Process (AHP) model as a method for analyzing the level of risk in relation to controlling the quantity and quality of each structural work item. There are at least 7 (seven) factors considered as AHP inputs, namely time, method of implementation, labor, equipment, materials, administration, cost, and design. This study method includes data collection methods and analytical methods. For data collection, this study uses a questionnaire method which contains questions related to technical and non-technical factors used to assess work effectiveness from a risk management perspective. The results of the analysis of hospital construction risk management show that the highest level of risk occurs in the material and environmental aspects. Risk handling should be done by the method of changing and coping to the high risk activities. Keywords: risk management, AHP, hospital, construction materials, workforce 1. PENDAHULUAN Risiko dalam proyek konstruksi dapat dimitigasi atau dialihkan dari satu mitra ke mitra lainnya daripada dihilangkan sama sekali. Jika risiko terwujud, itu akan berdampak pada seberapa baik kinerja proyek secara keseluruhan, yang dapat mengakibatkan hilangnya uang, waktu, dan kualitas pekerjaan. Menurut temuan penelitian Sandyafitri (2009), Putra (2013), dan Kurniawan (2013), penggunaan manajemen risiko dalam suatu proyek akan dapat: 1) mengurangi keterlambatan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan dan meningkatkan biaya proyek, 2) mengidentifikasi risiko yang diketahui dengan tingkat keparahan rendah, sedang, dan tinggi. Peristiwa yang termasuk dalam kategori risiko tinggi pada pelaksanaan konstruksi gedung bertingkat seperti; kurangnya gambar detail, perubahan desain, desain dan gambar tidak sesuai dengan bill of quantity, jumlah tenaga kerja yang berubah-ubah, kurangnya ketersediaan pekerja di lapangan, kurangnya kontrol dan koordinasi di lapangan, penambahan lingkup pekerjaan, ketidakakuratan dan ketidakcocokan spesifikasi detail pada desain, kurangnya keahlian pekerja dan kurangnya staf yang memenuhi syarat, kesalahan dalam memperkirakan biaya dan waktu pelaksanaan (Maulana, 2020). Variabel risiko yang dominan tinggi pada pelaksanaan bangunan gedung bertingkat menimbulkan dampak yang signifikan terhadap biaya dan waktu. Upaya perbaikan kenaikan upah, tenaga kerja yang berkeahlian kompeten, pengawasan mutu dan kerja lembur. (Labombang, 2017 dan Yuliana, 2017). Kategori risiko tinggi pada pelaksanaan konstruksi gedung bertingkat seperti; kurangnya gambar detail, perubahan desain, desain dan gambar tidak sesuai dengan bill of quantity, jumlah tenaga kerja yang berubah- ubah, kurangnya ketersediaan pekerja di lapangan, kurangnya kontrol dan koordinasi di lapangan, penambahan lingkup pekerjaan, ketidakakuratan dan ketidakcocokan spesifikasi detail pada desain, kurangnya keahlian pekerja dan kurangnya staf yang memenuhi syarat, kesalahan dalam memper- kirakan biaya dan waktu pelaksanaan (Maulana, 2020). Variabel risiko yang dominan tinggi pada pelaksanaan bangunan gedung