105 ARAHAN PENGELOLAAN LAHAN BERKELANJUTAN DI KAWASAN PERBATASAN KALIMANTAN TIMUR-MALAYSIA Recommendation of Sustainable Landuse in Border Area East Kalimantan-Malaysia M. Hidayanto 1 , S. Sabiham 2 , S. Yahya 2 , dan L.I. Amien 3 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur, Jl. PM Noor-Sempaja, Kotak Pos 1237, Samarinda 75119 2 Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680 3 Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Jl. Tentara Pelajar No. 1A, Bogor 16111 ABSTRAK Permasalahan pembangunan pertanian di kawasan perbatasan cukup komplek dan memerlukan penanganan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Hasil-hasil penelitian selama ini menunjukkan bahwa penanganan berbagai masalah di sektor pertanian telah banyak dilakukan, namun masih parsial dan ternyata belum mampu mengatasi masalah yang kompleks. Oleh karena itu untuk menyelesaikan berbagai permasalahan pembangunan pertanian di kawasan perbatasan tersebut perlu dilakukan secara holistik, yang memadukan aspek teknis, sosial, ekonomi, ekologi, dan kelembagaan. Pulau Sebatik merupakan salah satu kawasan perbatasan negara antara Indonesia dan Malaysia yang terletak di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur. Sampai saat ini tanaman kakao merupakan komoditas unggulan, namun produktivitasnya relatif masih rendah. Sesuai dengan potensi dan kendala sumberdaya lahan di Pulau Sebatik, arahan pengelolaan lahan berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas lahan tanaman kakao adalah melalui: (1) pengelolaan dan teknik konservasi lahan dan air, (2) penambahan bahan organik, (3) pemupukan berimbang, (4) pemberian mulsa, (5) integrasi tanaman, (6) integrasi tanaman-ternak, serta (7) peningkatan kapasitas kelembagaan petani. Kata kunci : Pertanian berkelanjutan, produktivitas lahan, kakao, kawasan perbatasan ABSTRACT Development problems of agriculture on border area require handling which more comprehensive and sustainable. Up to now, research results indicate that efforts has been done in handling various problems in agricultural sector, but still partial and is not be able to overcome complex problems. Therefore to overcome various development problems of agriculture on the border area need to be done in holisticaly, covers all aspect i.e. social, economics, ecology, and institution. Sebatik Island is one of state border area between Indonesia and Malaysia, located in Nunukan District, East Kalimantan Province. Up to now, cocoa is still the priority commodity, but its productivity is relatively low. Based on potency and constraint of land resources in Sebatik Island, sustainable recommendations to increase land productivity of cocoa i.e. (1) land and water conservation management, (2) using organic matter, (3) proportional fertilization, (4) using mulch, (5) integrated crop management, (6) integrated crop-livestock system, and (7) improvement of capacity of farmers institution. Keywords : Sustainable agriculture, land productivity, cocoa, border area awasan di Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan negara tetangga (Malaysia) memiliki panjang sekitar 1,02 ribu km yang membentang dari Kabupaten Nunukan, Malinau hingga Kutai Barat. Salah satu kawasan perbatasan yang terletak di Kabupaten Nunukan adalah Pulau Sebatik. Pulau ini mempunyai luas sekitar 24,4 ribu ha dan berada pada ketinggian kurang dari 400 m di atas permukaan laut (dpl). Topografi kawasan ini sebagian besar berbukit kecil sampai bergunung, dengan kelerengan 15 sampai >40% (Adimiharja et al., 2002; Abubakar, 2004; BPTP Kaltim, 2007). Komoditas unggulan tanaman kakao di Pulau Sebatik diusahakan untuk keperluan perdagangan antar pulau dan antar negara. K ISSN 1907-0799