Ulin - J Hut Trop Vol 8 (1): 160-169 pISSN 2599 1205, eISSN 2599 1183 Maret 2024dkk. – Ru DOI: http://dx.doi.org/10.32522/ujht.v8i1.12966 160 Pendapatan masyarakat dan evaluasi pola Silvopastura di Desa Tawangsari dan Sukomulyo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang Siti Nurainy 1 , Galit Gatut Prakosa 1 , Ramli Ramadhan 1* , 1 Program Studi Kehutanan, Universitas Muhammadiyah Malang *E-mail: ramliramadhan@umm.ac.id Artikel diterima : 17 Oktober 2023 Revisi diterima 05 Maret 2024 ABSTRACT Silvopastura, which combines trees and animal feed, is one of the agroforestry patterns that can improve the community's economy when compared to other agroforestry patterns. The purpose of this study was to determine community income and also evaluate the results of implementing the Silvopastura pattern in the villages of Tawangsari and Sukomulyo where most of the people are looking for livestock breeders who get their forage from the forest area in Pujon District, Malang Regency. This research was conducted in July-August 2022 using the census method with 364 respondents in Pujon District, Malang Regency, to analyze community income based on price (market place), and analysis of evaluating the success of Silvopastura implementation using interviews and observation by paying attention to and comparing the determinants of success animal husbandry The combination in the two villages is a type of pine tree (Pinus merkusii Jungh. et de Vries). and animal feed in the form of elephant grass (Pennisetum purpureum CV. Mott). The average net income of Sukomulyo Village is higher, namely Rp.44,923,325/year, and Tawangsari Village Rp.36,737,846/year. The results of the evaluation of the success of the Silvopastura pattern in the two villages were considered successful. Keyword: Income, silvopastura. evaluation, livestock, agroforestry ABSTRAK Silvopastura yang mengabungkan antara pohon dan pakan ternak merupakan salah satu pola agroforestri yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat jika dibandingkan dengan pola agroforestri lainnya. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pendapatan masyarakat dan juga mengevaluasi hasil dari pelaksanaan pola Silvopastura di Desa Tawangsari dan Sukomulyo yang sebagian besar masyarakatnya berpencarian sebagai peternak yang mendapatkan pakan hijauannya berasal dari Kawasan hutan di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli- Agustus 2022 dengan menggunakan metode sensus dengan responden 364 di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, untuk menganalisis pendapatan masyarakat berdasarkan harga (market place), dan analisis evaluasi keberhasilan pelaksanaan Silvopastura menggunakan wawancara dan observasi dengan memperhatikan dan membandingkan faktor penentu keberhasilan wanaternak. Kombinasi di kedua desa yaitu berupa jenis pohon pinus (Pinus merkusii Jungh. et de Vries). dan pakan ternak berupa rumput gajah (Pennisetum purpureum CV. Mott). Rata-rata pendapatan bersih Desa Sukomulyo lebih tinggi yaitu Rp.44.923.325/tahun, dan Desa Tawangsari Rp.36.737.846/tahun. Hasil evaluasi keberhasilan pola Silvopastura kedua desa dinilai berhasil. Kata kunci: Pendapatan, silvopastura. evaluasi, ternak, agroforestri PENDAHULUAN Agroforestri merupakan salah satu sistem penggunaan lahan yang mengkombinasi tanaman berkayu (pepohonan, perdu, bambu, rotan dan yang lainnya), dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula berupa rerumputan, kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya, sehingga terbentuk interaksi ekologi dan ekonomi antara tanaman berkayu dengan komponen lainnya (Duffy dkk., 2021; Hasannudin dkk., 2022). Agroforestri juga dapat diartikan suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpang sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar, pola pagar adalah pola pengembangan tanaman kehutanan sebagai pagar di tepi lahan secara melingkar. Pola ini banyak ditemukan pada lahan pekarangan dan lahan pertanian yang subur (Zainuddin & Sribianti, 2018) Pola agroforestri juga memungkinkan penanaman dengan pola monokultur, walaupun keluarga merupakan pihak yang paling menentukan keputusan dalam pengusahaan hutan rakyat dengan pola agroforestry. Pada dasarnya Agroforestri terdiri dari 3 komponen pokok yaitu: kehutanan, pertanian, dan peternakan. Masing-masing komponen sebenarnya dapat berdiri sendiri-sendiri sebagai sau bentuk sistem pengelolaan lahan. Pengabungan dari 3 komponen tersebut akan menghasilkan beberapa bentuk kombinasi yaitu: