156 J. Litbang Pert. Vol. 32 No. 4 Desember 2013: 156-165 J. Litbang Pert. Vol. 32 No. 2 Juni 2013: .... - .... PROSPEK PENGEMBANGAN KARET DI WILAYAH DAERAH ALIRAN SUNGAI Prospect of Rubber Development in Watershed Area Island Boerhendhy dan Dwi Shinta Agustina Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet Jalan Raya Palembang-Pangkalan Balai km 29, Kotak Pos 1127, Palembang 30001 Telp. (0711) 7439493, Faks. (0711) 7439282 E-mail: irri-sbw@mdp.net.id, irri_sbw@yahoo.com Diajukan: 29 Oktober 2012; Disetujui: 26 Agustus 2013 ABSTRAK Harga karet alam yang terus meningkat telah menarik minat petani maupun investor untuk membangun kebun karet dengan meng- gunakan bibit unggul. Perkebunan karet tidak hanya dibangun di area karet tradisional, tetapi juga di area bekas hutan tanaman industri (HTI) maupun daerah aliran sungai (DAS). Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang prospek pengembangan perkebunan karet di kawasan DAS, khususnya DAS Musi Sumatera Selatan. Pengelolaan kawasan DAS bertujuan untuk mengatur tata guna lahan agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan penduduk dengan lingkungan di kawasan DAS. Salah satu strategi untuk mencapai keseimbangan tersebut adalah dengan memanfaatkan lahan di kawasan DAS secara optimal untuk usaha tani yang mencakup beberapa komoditas tanaman, baik tanaman tahunan maupun tanaman semusim. Pengembangan tanaman karet yang dikombinasikan dengan tanaman semusim, selain dapat mening- katkan pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, dan menambah devisa negara, diharapkan pula dapat berfungsi sebagai salah satu alternatif konservasi lahan untuk pelestarian lingkungan secara berkelanjutan di kawasan DAS. Kata kunci: Hevea brasiliensis , pengembangan, daerah aliran sungai ABSTRACT Rising natural rubber price attracted smallholders and investors to establish rubber plantations using superior planting material. Rubber plantation is not only developed in the traditional areas, but also in the area of industrial plant forest and in the watershed area. This paper aimed to provide information about the prospect of rubber plantation development in the watershed area, especially in Musi watershed in South Sumatra. Management of watershed aimed to create a balance between population needs and environment. A strategy to achieve the balance is to use the land in the watershed optimally with a farming that includes several crops, including perennial crops and cash crops. Development of rubber combining with cash crops increased smallholders income, created jobs, and could be a source of foreign exchange. Besides, it could conserve land and water to achieve sustainable watershed environment. Keywords: Hevea brasiliensis, development, watershed PENDAHULUAN S uplai pasar karet alam dunia saat ini masih terbuka, yang ditunjukkan oleh tren konsumsi yang terus meningkat. Peningkatan konsumsi karet terutama disebabkan oleh tingginya permintaan dari negara-negara industri karet di pasar tradisional (Amerika, Uni Eropa, dan Jepang) maupun pasar baru (China, India, Rusia, dan Brasil), meningkatnya pertumbuhan ekonomi global, membaiknya kesejahteraan negara-negara di dunia, dan meningkatnya harga minyak bumi dan karet sintetis (Anwar 2012). Konsumsi karet alam China diperkirakan masih akan terus meningkat sebesar 4 juta t/tahun hingga tahun 2020 (IRSG 2005). Produksi karet alam dunia pada tahun 2020 diper- kirakan mencapai 11,5 juta ton (IRSG 2005). Sebagai negara produsen karet alam terbesar kedua setelah Thailand, Indonesia ditargetkan dapat memasok 3,3 juta ton (29%) untuk mengisi pangsa pasar tersebut. Guna mencapai target tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan menerapkan kebijakan peningkatan produksi karet melalui perluasan dan peremajaan kebun maupun rehabilitasi tanaman dengan menggunakan bibit unggul (Ditjenbun 2005). Pembangunan perkebunan karet juga berperan penting dalam pelestari lingkungan (Indraty 2005) dan mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah pengembangan. Karet alam memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Fungsi ekonomi yang menonjol dari komoditas ini adalah sebagai sumber pendapatan bagi lebih dari 10 juta petani dan menyerap sekitar 1,7 juta tenaga kerja, serta memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam perolehan devisa negara. Produk Domestik Bruto (PDB) yang diperoleh dari karet alam mencapai Rp6 triliun setiap tahun (Ditjenbun 2002). Pada tahun 2007, misalnya, ekspor karet alam Indonesia membukukan transaksi senilai US$4.868 juta dengan volume 2,4 juta ton. Pada tahun 2008, volume ekspor karet alam mencapai 2,28 juta ton dengan nilai US$ 6 juta (Ditjenbun 2009). Pemerintah telah menggariskan kebijakan pengem- bangan karet nasional dengan sasaran jangka panjang