Batas Artificial Intelligence: Antara Komputasi dan Kesadaran Manusia Abdul Hakim Pengajar Studi Perbandingan Politik STISNU Nusantara Tangerang Abstrak Tulisan ini mengeksplorasi batas-batas kecerdasan buatan (AI) dalam mereplikasi kesadaran dan pengalaman subjektif manusia. Melalui perspektif filosofis, neurosains, dan ilmu kognitif, dibahas tiga tantangan utama: masalah qualia (pengalaman subjektif yang tak tereduksi), kesenjangan antara komputasi dan pemahaman (seperti dalam eksperimen Chinese Room Searle), serta kompleksitas bahasa dan makna yang melampaui logika simbolik. Tulisan ini juga mengkritik narasi reduksionis yang menyamakan pikiran dengan mesin komputasi, sambil menawarkan refleksi tentang dimensi eksistensial—seperti kreativitas, intuisi, dan kebijaksanaan—yang tetap menjadi keunikan manusia. Dengan merujuk pada pemikir seperti Nagel, Chomsky, dan Dennett, tulisan ini menyimpulkan bahwa AI mungkin mampu meniru aspek fungsional kecerdasan, tetapi tidak akan pernah sepenuhnya memahami atau mengalami dunia seperti manusia. Kata Kunci: Kesadaran, artificial intelligence/AI, Qualia dan pengalaman subjektif, Reduksionisme vs. holism, Bahasa dan makna, philosophy of mind, Komputasi vs. pemahaman, Chinese Room (John Searle), Neurosains dan kognisi. Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan pesat di bidang kecerdasan buatan (AI) dan ilmu kognitif telah memicu perdebatan filosofis yang semakin intens mengenai hakikat kesadaran, kecerdasan, dan esensi kemanusiaan. Tulisan ini bertujuan untuk menyajikan eksplorasi kritis terhadap dominasi paradigma reduksionis dalam wacana kontemporer—khususnya asumsi bahwa seluruh proses kognitif manusia dapat direduksi sepenuhnya menjadi komputasi algoritmik. Melalui pendekatan multidisipliner yang memadukan filsafat kesadaran, neurosains, linguistik kognitif, dan teori komputasi, kajian ini mengulas tiga persoalan mendasar: pertama, persoalan qualia dan pengalaman subjektif sebagaimana dikemukakan oleh Nagel (1974) dan Chalmers (1995); kedua, keterbatasan model komputasional dalam menjelaskan fenomena kesadaran (Searle, 1980); dan ketiga, kompleksitas semantik bahasa manusia yang tidak dapat sepenuhnya direpresentasikan dalam sistem simbolik formal (Wittgenstein, 1953). Analisis yang dihadirkan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memiliki relevansi praktis bagi pengembangan teknologi AI yang lebih canggih, reflektif, dan etis. Penulis berargumen bahwa meskipun pendekatan komputasional telah memberikan kontribusi signifikan dalam memodelkan aspek-aspek tertentu dari proses kognisi, pendekatan ini masih belum