MITOS DAN MAKNA KUE NAGASARI DALAM BUDAYA TRADISIONAL JAWA DI SURABAYA Oleh: Nafisa Sheira Pramadita Abstrak Artikel ini membahas makna mitologis dan simbolis dari kue Nagasari dalam budaya tradisional Jawa, khususnya di wilayah Surabaya. Melalui pendekatan etnografi dan studi pustaka, ditemukan bahwa kue Nagasari bukan sekadar panganan, melainkan representasi nilai spiritual dan sosial dalam masyarakat Jawa. Dalam berbagai acara tradisional seperti kenduri dan mitoni, kue ini dianggap memiliki kekuatan simbolik yang merepresentasikan harapan, perlindungan, dan kesuburan. Studi ini juga menyoroti bagaimana masyarakat urban seperti Surabaya tetap mempertahankan tradisi melalui makanan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan warisan budaya. Kata Kunci: kue Nagasari, budaya Jawa, simbolisme, etnografi, makanan tradisional Pendahuluan Budaya kuliner tidak hanya mencerminkan kebutuhan biologis manusia, tetapi juga menyimpan simbol-simbol sosial, spiritual, dan historis yang dalam. Dalam konteks budaya Jawa, makanan tradisional sering kali dikaitkan dengan berbagai nilai luhur, filosofi hidup, dan praktik adat. Salah satu contoh makanan tersebut adalah kue Nagasari, sebuah jajanan pasar yang umum ditemukan dalam berbagai acara tradisional seperti selamatan, kenduri, atau hajatan (idntimes.com). Kue Nagasari biasanya terbuat dari tepung beras, santan, gula, dan pisang, dibungkus daun pisang, lalu dikukus. Meski tampak sederhana, keberadaan dan penyajiannya menyimpan simbol dan makna tersendiri. Pisang sebagai isi kue melambangkan kesuburan dan keberkahan, sementara daun pisang sebagai pembungkus mengandung nilai perlindungan dan kesucian (fliphtml5.com). Dalam masyarakat Jawa, kue Nagasari bukan sekadar camilan, tetapi juga bagian dari narasi budaya yang merepresentasikan keharmonisan antara manusia, alam, dan leluhur. Makanan ini sering digunakan sebagai simbol ketulusan hati dalam persembahan kepada tamu atau roh leluhur (katakini.com). Menurut Amri dan Masitho (2024), penggunaan makanan sebagai simbol dalam upacara adat menegaskan pentingnya relasi spiritual antara manusia dan dunia tak kasat mata dalam kosmologi Jawa. Tradisi ini juga tampak di Surabaya, kota besar yang meskipun modern, tetap memelihara praktik budaya lokal dalam bentuk upacara dan penggunaan makanan tradisional. Meski Surabaya mengalami modernisasi yang pesat, kue Nagasari tetap hadir dalam berbagai ritual keluarga dan komunitas sebagai elemen simbolik yang dipertahankan (radarmalang.jawapos.com).