SENADA | 214 Prosiding Seminar Nasional Manajemen, Desain & Aplikasi Bisnis Teknologi (SENADA) p-ISSN 2655-4313 (Print), e-ISSN 2655-2329 (Online) SENADA, Vol.8, April 2025, http://senada.idbbali.ac.id DISRUPSI KUASA PEMAKNAAN “SING BELING SING NGANTEN” PADA MEDIA MASSA MELALUI RESPON WARGANET Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha 1 , Putu Surya Triana Dewi 2 1 Program Studi Desain Komunikasi Visual, Institut Desain dan Bisnis Bali 2 Program Studi Desain Interior, Institut Desain dan Bisnis Bali e-mail: bligungyudha@gmail.com 1 , dewiestede@gmail.com 2 Received : Februari, 2025 Accepted : Maret, 2025 Published : April, 2025 ABSTRACT "Sing Beling Sing Nganten"—literally meaning “no pregnancy, no marriage”—reflects a disruption in the meaning of marriage within the Balinese patrilineal cultural system. Social constructions and layered pressures shape narratives in which the success of a marriage is defined by the presence of offspring. Using a qualitative approach and critical discourse analysis, this study examines articles from national online news platforms and public commentary on social media such as Instagram and TikTok. Findings reveal that “Sing Beling Sing Nganten” not only illustrates a renegotiation of meaning in marital relationships but also exposes the vulnerable position of women trapped in multi-layered social pressures, from the nuclear family to traditional village communities. Meanwhile, men retain greater control over the direction of relationships, including the power to redefine socially legitimized norms. On another level, these layered pressures reveal power dynamics that go beyond the husband-wife dichotomy, shaping stigmas dominated by familial and customary environments rooted in generational beliefs—both in social views and traditional religious literature. The emerging visual discourse and digital narratives become spaces of both resistance and reproduction of long-established cultural values. The contribution of this research lies in its fresh insights into the intersections of gender discourse, customary value systems, and media representation, while also highlighting how peoples gave their opinion on their comment section on digital platforms plays a role in reframing power relations within the institution of marriage in Bali. This study affirms the urgency of critiquing cultural constructions that normalize inequality and opens up space for more equitable and just meaning-making. Keywords: disruption, gender, social pressure, media, marriage, netizens ABSTRAK "Sing Beling Sing Nganten" berarti tidak hamil maka tidak menikah. Fenomena ini merefleksikan disrupsi pemaknaan pernikahan dalam masyarakat Bali yang menganut budaya patrilineal. Konstruksi sosial dan tekanan berjenjang membentuk narasi terkait keberhasilan pernikahan yang ditentukan dari adanya keturunan. Menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis wacana kritis, penelitian ini menganalisis artikel-artikel dari situs berita daring nasional serta komentar publik dalam platform media sosial seperti Instagram dan Tiktok. Temuan menunjukkan bahwa “Sing Beling Sing Nganten” tidak hanya mencerminkan negosiasi makna baru dalam relasi pernikahan, namun juga memperlihatkan posisi rentan perempuan yang terjebak dalam tekanan sosial berlapis: dari keluarga inti hingga komunitas desa adat. Sementara itu, laki-laki tetap memiliki kuasa lebih besar dalam menentukan arah relasi, termasuk dalam menyusun ulang norma yang dilegitimasi secara sosial. Di satu sisi, tekanan berjenjang membuka tabir terkait kuasa melebihi sekedar posisi suami istri dalam membentuk stigma yang di dominasi dari keluarga dan lingkungan desa adat yang memiliki keterkaitan kuat pada pemahaman turun temurun. Baik dari pandangan sosial dan juga literatur adat serta agama. Diskursus visual dan narasi digital yang muncul menjadi ruang resistensi sekaligus reproduksi atas nilai-nilai yang telah lama dianggap baku. Kontribusi