Jurnal Kedokteran Hewan Vol. 7 No. 2, September 2013 ISSN : 1978-225X 120 LEVEL STEROID SAPI ACEH YANG DIINDUKSI DENGAN PREGNANT MARE’S SERUM GONADOTROPIN (PMSG) DAN FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) Steroid Level of Aceh’s Cattle Induced by Pregnant Mare’s Serum Gonadotropin (PMSG) and Follicle Stimulating Hormone (FSH) Amiruddin 1 , Tongku Nizwan Siregar 2 , Teuku Armansyah 3 , Hamdan 2 , Arismunandar 4 , dan Muhammad Rifki 4 1 Laboratorium Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 2 Laboratorium Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 3 Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 4 Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh E-mail: tongku.siregar@unsyiah.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh induksi superovulasi dengan pregnant mare’s serum gonadothropin (PMSG) dan follicle stimulating hormone (FSH) terhadap peningkatan level steroid sapi aceh. Penelitian ini menggunakan 6 ekor sapi aceh betina dengan status tidak bunting, minimal 2 bulan pasca partus, sudah pernah beranak, dan sehat secara klinis. Sapi dibagi atas dua kelompok, masing-masing 3 ekor untuk tiap kelompok. Pada kelompok I, sapi diinjeksi dengan 1.500 IU PMSG pada hari ke-9 yang diikuti dengan penyuntikan 5 ml prostaglandin pada hari ke-11. Pada kelompok II, hari ke-9 sampai hari ke-12, sapi diinjeksi dengan FSH dua kali sehari (pagi dan sore, 08.00 dan 16.00 WIB) menggunakan dosis bertingkat yakni 3-3, 2-2, 1-1, dan 0,5-0,5 ml. Pada hari ke-11 sapi diinjeksi dengan 2,5 ml prostaglandin (pagi dan sore, 08.00 dan 16.00 WIB). Koleksi darah untuk pemeriksaan estrogen dilakukan ketika sapi memperlihatkan gejala berahi (saat inseminasi) setelah pemberian PMSG dan FSH yang diikuti dengan pemberian prostaglandin (berahi sesudah superovulasi) sedangkan koleksi darah untuk pemeriksaan konsentrasi progesteron dilakukan pada hari ke-7 setelah inseminasi. Pengukuran konsentrasi estrogen dan progesteron dilakukan dengan metode enzymelinkedimmunosorbanassay (ELISA). Konsentrasi estrogen pada saat estrus setelah induksi superovulasi dengan PMSG dan FSH masing-masing adalah 89,46±2,46 dan 54,62+ 9,91 pg/ml sedangkan konsentrasi progesteron pada hari ke-7 setelah inseminasi masing- masing adalah 14,78±2,33 dan 17,40±5,8 ng/ml. Hormon PMSG mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam meningkatkan konsentrasi estrogen pada saat berahi tetapi hormon FSH mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan hormon PMSG dalam meningkatkan konsentrasi progesteron hari ke-7 setelah inseminasi. ____________________________________________________________________________________________________________________ Kata kunci: sapi aceh, PMSG, FSH, estrogen, progesteron ABSTRACT The aim of this research is to know the influence of superovulation induced by PMSG and FSH on the increased of aceh cattle steroid hormone concentration. This research used 6 female aceh cattle with the conditions of unpregnant, at least two months post partus, have birth before, and clinically healthy. Cattle were allotted into two treatment groups, 3 cattle each. Cattle in group I were injected with 1,500 IU PMSG on day 9 th followed by 5 ml prostaglandin injection on day 11 th . Cattle in group II were injected with FSH on day 9 th -12 th , twice a day (at 08.00 AM and 04.00 PM) using a decrease dose of 3-3, 2-2, 1-1, and 0.5-0.5 ml. Then, on day 11 th they were injected with 2.5 ml prostaglandin (08.00 AM and 04.00 PM). Blood collecting were performed when the cattle showed estrous symptoms after PMSG and FSH injection and followed by prostaglandin injection (estrous after superovulasi) and the blood collecting for progesterone concentration measurement were done on day 7 th after insemination. Estrogen and progesterone concentrations were measured using enzymelinkedimmunosorbanassay (ELISA). The results showed that estrogen concentration on estrous after induced by PMSG and FSH were 89.46± 2.46 and 54.62± 9.91 pg/ml while progesterone concentration on day 7 th after insemination were 14.78±2.33 and 17.40±5.8 ng/ml. In conclusion, PMSG is able to increase estrogen concentration higher than FSH, but FSH is able to increase progesterone concentration on day 7 th after insemination higher than PMSG. ____________________________________________________________________________________________________________________ Key words: aceh cattle, PMSG, FSH, estrogen, progesterone PENDAHULUAN Sampai saat ini terdapat dua tipe hormon yang paling sering digunakan untuk tujuan superovulasi yakni pregnant mare’s serum gonadotropin (PMSG) dan follicle stimulating hormone (FSH). Kedua hormon ini masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bila dibandingkan dengan penggunaan PMSG, respons ovarium oleh hormon FSH biasanya lebih baik karena lebih banyak menghasilkan ovulasi, jumlah folikel anovulasi lebih sedikit, lebih banyak embrio yang dapat diperoleh, dan kualitas embrio lebih baik. Kelemahan dari FSH adalah sukar diperoleh di pasar domestik, harganya relatif mahal, dan pemberiannya harus berulang-ulang sehingga mengakibatkan stres dan menurunkan kualitas embrio (Putro, 1996). Rendahnya respons superovulasi menggunakan hormon FSH disebabkan pemberian berulang-ulang, dapat diatasi dengan melarutkan FSH dalam pelarut polyvinylpirolydone (PVP) secara intramuskular atau subkutan. Hormon PMSG merupakan glikoprotein kompleks yang mempunyai aktivitas biologis seperti FSH dan LH, meskipun aktivitas FSH lebih dominan. Hormon PMSG mengandung asam sialat 10,8% yang berfungsi mencegah degradasi glikoprotein hormon oleh hati. Pada sapi, PMSG mempunyai daya kerja yang cukup panjang waktu paruhnya, yakni antara 2-5 hari, sedangkan residunya tetap ada dalam sirkulasi darah