Volume 4, Nomor 1, April 2020 ISSN 2623-1581 (Online) ISSN 2623-1573 (Print) PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat Page 20 PENGARUH SOSIAL EKONOMI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI DESA KUALU TAMBANG KAMPAR Dian Wahyuni 1 , Rinda Fitrayuna 2 Program Studi S1 Teknologi Informatika 1 , DIII Kebidanan 2 STMIK Amik Riau 1 , Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Riau 2 Dian.tando@yahoo.com 1 , ABSTRACT According to WHO, stunting is a condition of failure to grow. This can be experienced by children who are getting poor nutrition, recurrent infections, and inadequate psychosocial stimulation. Children approve of height growth according to world standard growth charts. The 2018 National Health Research (Riskesdas) data processed by Lokadata Beritagar.id shows that 30.8 percent of children under five in Indonesia increase stunting. Based on the Kampar Nutrition Situation Map in 2018 explained that the prevalence of toddlers is very short. In Kampar District it is 6.67% and short toddlers is 13.15%. If you see the prevalence according to sub-districts in Kampar District, this research is an observational study using Cross Sectional, using 105 underfives. The study was conducted in Kualu Village. Bivariate data analysis using the Quadratic Kai Test. The results showed that parents in the Toddler Stunting group had a basic education of 102 respondents (92.86%), most of them had a workforce of 70 respondents (67.87%) and also proved capable of producing large Paid regional drinking (<UMR) of 65 respondents (58.62%). Research results by the bivariat found two variables (Education, and Income) significantly associated with the incidence of Stunting (p-value <0.05). Distributed to parents of toddlers both in the Stunting group and those who are not Stunting, it takes time to work while still providing appropriate parenting for the Toddler. Parents should be able to meet the needs of their toddlers. Keywords: Education, Employment and Income and Stunting Events. ABSTRAK Menurut WHO, stunting adalah kondisi gagal tumbuh. Ini bisa dialami oleh anak-anak yang mendapatkan gizi buruk, terkena infeksi berulang, dan stimulasi psikososialnya tidak memadai. Anak dikatakan stunting ketika pertumbuhan tinggi badannya tak sesuai grafik pertumbuhan standar dunia. Data Riset Kesehatan Nasional (Riskesdas) 2018 yang diolah Lokadata Beritagar.id menunjukkan, 30,8 persen balita di Indonesia mengalami stunting. Berdasarkan Peta Situasi Gizi Kampar Tahun 2018 menjelaskan bahwa Prevalensi balita sangat pendek . Di Kabupaten Kampar adalah 6,67% dan balita pendek sebesar 13,15%. Jika dilihat prevalensi menurut kecamatan di Kabupaten Kampar, Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan Cross Sectional, menggunakan 105 Balita. Penelitian dilakukan di Desa Kualu. Analisa data Bivariat menggunakan Uji Kai Kuadrat .Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian orang tua pada kelompok Balita Stunting berpendidikan dasar sebanyak 102 responden (92,86 %), sebagian besar memiliki pekerjaan buruh sebanyak 70 responden (67,87 %) serta penghasilan sebagian besar berpendapatan dibawah upah minum regional (< UMR) sebanyak 65 responden (58,62%). Hasil Penelitian secara bivariat ditemukan dua variabel (Pendidikan, dan Pendapatan ) signifikan berhubungan dengan kejadian Stunting (p-value < 0,05). Disarankan kepada orang tua Balita baik pada kelompok Stunting maupun yang tidak Stunting, hendaknya dapat mengatur waktu meskipun bekerja sehingga tetap dapat memberikan pola asuh yang memadai kepada Balitanya. Sebaiknya orang tua mampu untuk mencukupi kebutuhan Balita nya. Kata kunci : Pendidikan, Pekerjaan dan Pendapatan serta Kejadian Stunting.