Pengaruh Frekuensi Hemodialisis Cendana Medical Journal, Volume 16, Nomor 1, Maret 2019 Universitas Nusa Cendana 102 PENGARUH FREKUENSI HEMODIALISIS TERHADAP PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN DAN INDEKS ERITROSIT PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK PRE DAN POST HEMODIALISIS DI RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES TAHUN 2018 Aulia Ayu Puspita, Elisabeth Levina Sari Setianingrum, Kartini Lidia ABSTRAK Hemodialisis merupakan salah satu terapi yang dapat digunakan sebagai terapi penyakit gagal ginjal kronik. Anemia umum dijumpai pada pasien dengan gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis. Anemia dapat dinilai dengan penanda yaitu Hemoglobin dan Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC, dan RDW). Tujuan penelitian ini mengetahui adanya pengaruh frekuensi hemodialisis terhadap perbedaan kadar hemoglobin dan indeks eritrosit pada pasien gagal ginjal kronik pre dan post hemodialisis di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupangtahun 2018. Metode penelitian ini menggunakan observational analitic dengan pendekatan studi cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Prof Dr. W.Z.Johannes Kupang. Jumlah sampel sebanyak 62 orang yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Data frekuensi terapi hemodialisis, Hemoglobin dan Indeks Eritrosit diambil dari rekammedik. Hasil penelitian ini nilai signifikan (p) pengaruh frekuensi terhadap perbedaan kadar hemoglobinya itu p=0,049, dan nilai p pengaruh frekuensi terhadap perbedaan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC dan RDW) yaitu p=0,590, p=0,547, p=0,689 dan p=0,706 dengan taraf signifikansi p < 0,05. Kesimpulan terdapat perbedaan yang signifikan frekuensi hemodialisis 2 kali dan 3 kali seminggu terhadap perbedaan kadar hemoglobin pasien gagal ginjal kronik pre dan post hemodialisis dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan frekuensi hemodialisis terhadap perbedaan kadar indeks eritrosit pasien gagal ginjal kronik pre dan post hemodialisis. Kata Kunci : Frekuensi Hemodialisis, Hemoglobin, Indeks Eritrosit, Gagal Ginjal Kronik, Hemodialisis Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah kerusakan ginjal dan penurunan fungsi ginjal selama tiga bulan atau lebih dengan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) kurang dari 60 ml/menit/1,73 m 2 ≥3 bulan (1)(2) .Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap berupa dialisis atau transplantasi ginjal (3) . Prevalensi penyakit GGK di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 0,2%, dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 0,4%.Prevalensi GGK di Nusa Tenggara Timur mencapai 0,3% (4) . Salah satu kelainan hematologi yang dapat terjadi pada pasien GGK yaitu anemia (5) . Anemia merupakan suatu kondisi dimana konsentrasiHemoglobin(Hb) <12g/dl pada wanita dan <13,5g/dl pada pria. Penyebab anemia pada pasien PGK yaitu defisiensi erytopoetin relatif, berkurangnya usia eritosit, defisiensi besi, perdarahan saluran cerna dan inflamasi kronik (6) . Untuk menentukan jenis anemia pada GGKbisa dengan melakukan pemeriksaan laboratorium darah seperti pemeriksaan indeks eritrosit (7) . Indeks eritrosit terdiri dari mean corpuscular volume (MCV), mean corpuscular hemoglobin (MCH), mean corpuscular hemoglobin concetration hemoglobin concentration (MCHC) dan Red blood cell distribution width (RDW). Pemantauan kadar Hb dan penentuan jenis anemia sangat dibutuhkan untuk menentukan tatalaksana yang akan diambil kedepannya dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup serta mengurangi angka kematian pada pasien Universitas Nusa Cendana 102 brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by E-Journal Undana Universitas Nusa Cendana Kupang