Eksergi, Vol 19, No.1 ISSN: 1410-394X 29 Pembuatan biodiesel dari minyak jelantah menggunakan katalis heterogen Production of biodiesel from waste cooking oil using heterogeneous catalyst Danang Jaya*, Tunjung Wahyu Widayati, Hanum Salsabiela, Muhammad Fathan Abdul Majid Program Studi S1 Teknik Kimia, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Jl. SWK 104 (Lingkar Utara) Condong Catur, Yogyakarta 55283, Indonesia Artikel histori : Diterima: 19 November 2021 Diterima dalam revisi: 23 Januari 2022 Diterima: 24 Januari 2022 Online: 5 April 2022 ABSTRAK: Cadangan minyak bumi didunia semakin menipis yang membuat pemerintah juga menerapkan kebijakan mandatori B30 mulai awal 2020. Dengan kebijakan ini, maka diperlukan adanya pengembangan energi dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti minyak nabati yang dapat diubah menjadi biodiesel. Minyak jelantah merupakan salah satu minyak nabati yang sangat potensial untuk diolah menjadi biodiesel karena pemanfaatan minyak jelantah di Indonesia masih belum berkembang. Dalam penelitian ini, kami melaporkan hasil pembuatan biodiesel dari minyak jelantah dengan variasi perbandingan jumlah mol dan berat katalis heterogen. Biodiesel dibuat dengan proses esterifikasi dan transesterifikasi dengan katalis heterogen (CaO), kemudian dilakukan proses pemisahan untuk memisahkan Biodiesel yang dihasilkan dengan hasil samping berupa gliserol. Biodiesel yang dipisahkan kemudian dilakukan analisis densitas, viskositas, flash point, dan pour point. Hasil penelitian menujukan Biodiesel terbaik yaitu pada Perbandingan mol 1:24 dengan katalis CaO 3 %. Berdasarkan data analisis, biodiesel ini memiliki yield terbesar yaitu 72,49 % dengan nilai viskositas 4,9806 cSt, nilai flash point 72,5 o C, nilai pour point 0 o C, dan nilai densitasnya 0,8662 g/ml serta nilai kalor 8837,302 kal/gram. Dengan hasil analisa tersebut yang sudah sesuai standar baku mutu mutu SNI 7182:2015. Kata kunci: minyak jelantah; katalis CaO; esterifikasi; transesterfikasi; biodiesel ABSTRACT: The world's oil reserves are running low, which makes the government also implement a mandatory B30 policy starting in early 2020. With this policy, it is necessary to develop energy by utilizing renewable energy such as vegetable oil that can be converted into biodiesel. Waste cooking oil is one of the vegetable oils that has the potential to be processed into biodiesel because the use of waste cooking oil in Indonesia is still not developed. In this study, we report the yield of biodiesel from waste cooking oil with variations in the ratio of the number of moles and weight of heterogeneous catalysts. Biodiesel is made by esterification and transesterification with a heterogeneous catalyst (CaO), then a separation process is carried out to separate the biodiesel produced from the by-product in the form of glycerol. The separated biodiesel is then analyzed for density, viscosity, flash point, and pour point. The results showed that the best biodiesel was at a mole ratio of 1:24 with 3% CaO catalyst. Based on the analysis data, this biodiesel has the largest yield of 72.49% with a viscosity value of 4.9806 cSt, a flash point value of 72.5 o C, a pour point value of 0 o C, and a density value of 0.8662 g/ml and calorific value. 8837,302 cal/gram. With the results of the analysis, that are in accordance with the quality standards of SNI 7182:2015. Keywords: waste cooking oil; CaO catalyst; esterification; transesterification; biodiesel 1. Pendahuluan Cadangan minyak bumi didunia semakin menipis karena adanya peningkatan jumlah pertumbuhan penduduk dan industri. Berdasarkan hal tersebut, *Corresponding Author: Email: danangjay@upnyk.ac.id pemerintah juga menerapkan kebijakan mandatori B30, yakni campuran biodiesel sebanyak 30% dalam bahan bakar minyak jenis solar, mulai awal 2020 (Andrea, 2020). Oleh karena itu diperlukan adanya