TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. 10, No. 2 Desember 2023, Hal. 76-80 P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685–1660 76 Hubungan Indeks Masa Tubuh dengan Premenstrual Syndrome (PMS) Siti Haniyah 1* , Pramesti Dewi 2 1,2, Fakultas Kesehatan, Universitas Harapan Bangsa Email: sitihaniyah@uhb.ac.id 1* , pramestidewi@uhb.ac.id 2 Abstract PMS often occurs in teenage girls which appears with a set of symptoms both mental and physical and behavioral during the luteal phase of the menstrual cycle around 7-10 days before menstruation and disappears when menstrual blood comes out. One of the factors causing the syndrome is Body Mass Index. Symptoms of PMS that are commonly experienced by women during the premenstrual period include weight gain, edema, especially in the extremities and abdomen due to fluid retention in the body, pain in the joints, feeling of heaviness in the mother, acne, reduced urination, headaches, nausea, increased appetite. The aim of this study was to determine the relationship between Body Mass Index and premenstrual syndrome. The formula used in selecting respondents was total sampling with a cross-sectional approach. The assessment form used is SPAF and data analysis used Spearman rank to measure the relationship between Body Mass Index and PMS in Harapan Bangsa University. The conclusion of this study there is a relationship between BMI and PMS p: 0.00 and the relationship is quite close (0.456). Women with PMS disorders have low serotonin levels which causes early or late ovulation. This can trigger the hormones estrogen and progesterone, which cause complaints such as breast pain and bloating. At the same time, an increase in the hormone prostaglandin causes the uterus to contract which causes abdominal pain during the menstrual cycle. Keyword: Body Mass Indeks, Premenstrual Syndrome, Female Student Abstrak Premenstrual Syndrom sering terjadi pada remaja putri yang muncul dengan serangkaian gejala baik mental maupun fisik serta perilaku. PMS terjadi pada fase luteal siklus menstruasi sekitar 7-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang saat keluarnya darah menstruasi. Salah satu faktor penyebab sindrom ini adalah Indeks Massa Tubuh. Gejala PMS yang umum dialami wanita selama periode pramenstruasi diantaranya adalah penambahan berat badan, odema terutama di ekstremitas dan abdomen akibat retensi cairan di tubuh, linu di persendianrasa berat di mamae, muncul jerawat, buang air kecil berkurang, nyeri kepala, mual, nafsu makan meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Indeks Massa Tubuh dengan sindrom pramenstruasi. Rumus yang digunakan dalam pemilihan responden adalah total sampling dengan pendekatan cross sectional. Bentuk penilaian yang digunakan adalah SPAF dan analisis data menggunakan rank Spearman untuk mengukur hubungan Indeks Massa Tubuh dengan PMS di Universitas Harapan Bangsa. Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan antara BMI dengan PMS p: 0,00 dan hubungan tersebut cukup erat (0,456). Wanita dengan gangguan PMS memiliki kadar serotonin rendah yang menyebabkan ovulasi dini atau terlambat. Hal ini dapat memicu hormon estrogen dan progesteron sehingga menimbulkan keluhan seperti payudara nyeri dan kembung. Di saat yang sama, peningkatan hormon prostaglandin menyebabkan rahim berkontraksi sehingga menyebabkan sakit perut saat siklus menstruasi. Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh, Sindrom Pramenstruasi, Mahasiswi 1. Pendahuluan Perubahan tubuh pada anak gadis biasanya lebih awal dari pada remaja pria, kejadian ini ditandai dengan kematangan organ reproduksi datangnya haid atau perdarahan lapisan rahim saat sel telur tidak dibuahi. Pengeluaran darah haid rutin setiap bulan pada perempuan di masa pubertas [1]. Perempuan akan mengalami sejumlah tanda yang dikenal sebagai premenstrual syndrome (PMS) sebelum terjadinya menstruasi. PMS sering terjadi pada gadis remaja yang muncul dengan sekumpulan gejala baik itu jiwa dan raga serta tingkah laku selama fase luteal pada siklus haid sekitar 7-10 hari menjelang mens dan menghilang saat darah haid keluar. Beberapa wanita mungkin mengalami gejala yang terus berlanjut dalam 24 - 48 jam pada hari pertama menstruasi, dan menghilang pada hari setelahnya [2] Menurut laporan World Health Organisation gangguan menstruasi di dunia lebih banyak terjadi di Asia dari pada Eropa dan benua lainnya. Literatur sebelumnya dari Hou & Zho tahun 2021 pada responden di sebuah Perguruan tinggi di Cina menunjukkan bahwa dari 701 responden 451 (64,3%) tidak mengalami PMS, 157 (22,4%) mengalami PMS tingkat ringan, 85