Vol. 2, No. 1, Juni 2023, Hal. 56-63 DOI: http://10.32522/abdiku.v2i1 P-ISSN 1410-5610 (print) | E-ISSN 2620-8431 (online) 56 Pendampingan Petani Madu Kelulut di Kabupaten Kutai Kartanegara untuk Distribusi Madu Skala Nasional Swandari Paramita 1 , Irawan Wijaya Kusuma 2 , Julinda Romauli Manullang 3 , Nurul Puspita Palupi 3 , Ayu Mitha Sari 2 , Enos Tangke Arung 2* 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman 2 Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman 3 Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman *Email: tangkearung@yahoo.com ABSTRACT Honey from stingless bees, or "lebah kelulut" in Indonesian, is one of the flagship research projects of Mulawarman University (Unmul). Various advantages come from non-timber forest products in the humid tropical rainforest areas of East Kalimantan. Collaboration between Unmul and several groups of stingless bee farmers in Kutai Kartanegara has resulted in a local market for the product. One of the goals is to expand the market for stingless bee honey on a national scale. The innovative solution offered is to create a clear production process for the honey, standardize and certify the product, and provide good packaging and displays. PT. Agrobisnis Banten Mandiri (Perseroda) or PT. ABM is involved in providing packaging and displays for the product, as well as setting up the honey production process. This program involves 20 students as part of the Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) program at Unmul, particularly in research and village development activities. There are four program outcomes, including a partnership agreement between Unmul and PT. ABM, registration of the "beetropic" trademark, halal certification from the Indonesian Ulema Council, and an international journal indexed in "Fitoterapia”. Keywords: Accompaniment; Farmer; Honey; Stingless Bee ABSTRAK Madu dari lebah kelulut atau lebah tanpa sengat (stingless bee honey) merupakan salah satu riset unggulan Universitas Mulawarman (Unmul). Berbagai keunggulan berasal dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) di kawasan hutan tropika lembap (tropical rainforest) Kalimantan Timur (Kaltim). Kerja sama yang dilakukan antara Unmul dan beberapa kelompok petani lebah kelulut di Kutai Kartanegara, telah menghasilkan produk madu kelulut untuk dipasarkan secara lokal. Salah satu tujuan yang dicapai yaitu memperluas jangkauan pemasaran madu kelulut dalam ruang lingkup skala nasional. Solusi inovasi yang ditawarkan adalah menjadikan produk madu kelulut asal Kaltim memiliki alur produksi madu kelulut yang jelas, menjalani standarisasi dan sertifikasi produk yang bagus, serta memperoleh packaging dan display product madu kelulut yang baik. Keterlibatan mitra PT. Agrobisnis Banten Mandiri (Perseroda) atau PT. ABM terutama penyiapan packaging dan display product madu kelulut serta penyiapan alur produksi madu kelulut. Program ini melibatkan 20 mahasiswa sebagai bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Unmul, khususnya kegiatan penelitian/riset dan membangun desa. Terdapat empat capaian luaran dari program ini, yaitu perjanjian kerja sama antara Unmul dengan PT. ABM; pendaftaran merek “beetropic”; sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia; dan jurnal internasional terindeks di “Fitoterapia”. Kata kunci: Kelulut; Madu; Pendampingan; Petani PENDAHULUAN Madu kelulut dari lebah tanpa sengat (stingless bee honey) adalah salah satu produk riset unggulan Unmul. Produk ini memiliki kelebihan tersendiri karena merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dari kawasan hutan tropika lembap (tropical rainforest) Kaltim. Lebah tanpa sengat merupakan organisme eusosial yang hidup di daerah tropis (Hakim dkk., 2021). Lebah ini termasuk dalam famili Hymenoptera dan subfamili Meliponinae, dan mereka memiliki kepentingan ekologis yang tinggi (Sadam dkk., 2016). Lebah ini tergantung pada kondisi lingkungan ekologi sekitarnya yang terjaga dengan baik. Terdapat 12 spesies lebah tanpa