13 | Pena Literasi “TENGGELAM DALAM DIAM”: MENELISIK EKOKRITIK SASTRA DALAM BLUE ECONOMY INDONESIA Rosita Sofyaningrum 1)* , Kuni Zakiyatul Malihah 2) 1,2) Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama Kebumen rositasofyaningrum@gmail.com , kuniizakiyahh@gmail.com Diterima: 28 Desember 2023 Direvisi: 29 April 2024 Disetujui: 30 April 2024 ABSTRAK Penelitian ini mengkaji kerusakan lingkungan dalam karya sastra yang berdampak dalam kehidupan masyarakat pesisir utara pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk kerusakan lingkungan, dampak, dan solusi untuk mengatasi kerusakan alam yang terjadi pada film dokumenter. Penanggulangan kerusakan alam dapat dilakukan dengan blue economy sebagai sustainable development, khususnya pada peningkatan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah film dokumenter berjudul “Tenggelam dalam Diam” karya WatchDoc Documentary Makers. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan konten film dokumenter. Hasil penelitian ini berupa hal-hal sebagai berikut. Pertama, gambaran bentuk kerusakan lingkungan meliputi (1) adanya pemanasan global, (2) banjir rob, (3) abrasi di daerah pesisir pantai, dan (4) kurangnya air bersih akibat air laut yang kotor. Kedua, dampak kerusakan lingkungan yang mengakibatkan (1) permukaan air laut yang semakin tinggi, (2) terjadi kemunduran garis pantai dan penurunan tanah, (3) hilangnya tambak ikan akibat abrasi, (4) lumpuhnya aktivitas warga sekitar pesisir, dan (5) produksi kain batik yang tidak maksimal. Ketiga, pentingnya blue economy dalam upaya mengatasi krisis iklim yang digambarkan dalam film dokumenter sebagai pembangunan berkelanjutan. Kata kunci : Blue Economy; Ekokritik Sastra; Film Dokumenter PENDAHULUAN Permasalahan dan kerusakan lingkungan yang terjadi di bumi, sebagian besar dipicu oleh kelalaian ulah manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan, baik di darat maupun di perairan. Dalam hal ini, kerusakan lingkungan yang dikaji berkaitan dengan permasalahan yang ada di perairan Indonesia. Blue economy menjadi dasar penting untuk melakukan perubahan pada kerusakan dan krisis iklim yang terjadi di lingkungan masyarakat saat ini. Ekonomi biru (blue economy) berupaya membatasi hilangnya keanekaragaman hayati dengan mengikutsertakan pembangunan ekonomi, sehingga mengintegrasikan kepentingan lingkungan dan ekonomi, baik sosio-ekonomi berbasis darat maupun laut, menurut (Nasution, 2022). Blue economy memiliki rancangan pengoptimalan sumber daya air yang menitikberatkan pada kreativitas dan inovasi yang mengarah pada produk yang dihasilkan, keberlanjutan sistem produksi, serta penataan sumber daya manusia. Fokus pada blue economy terletak pada pembangunan ekonomi lingkungan yang berkelanjutan pada sektor