Fahira et al., (2023). Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 8 (4): 2165 2172 DOI: https://doi.org/10.29303/jipp.v8i4.1669 2165 Pengaruh Perceraian Terhdap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 5-6 Tahun di Desa Pondok Perasi Ampenan Kota Mataram Tahun 2023 (Studi Kasus) Naja Fahira 1 *, Muazar Habibbi 1 , Nurhasanah 1 , Ika Rachmayani 1 1 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini FKIP Universitas Mataram, Indonesia *Corresponding Author: najafahira2@gmail.com Article History Received: July 17 th , 2023 Revised: August 21 th , 2023 Accepted: October 18 th , 2023 Abstract: Perceraian suatu peristiwa yang sangat tidak diinginkan bagi setiap pasangan dan keluarga. Perceraian dalam keluarga manapun merupakan peralihan besar dan penyesuaian diri baru bagi anak-anak, mereka akan mengalami reaksi emosi dan perilaku karena kehilangan satu orang tua. Penelitian pengasuhan single parent dalam perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun dilakukan memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh perceraian terhadap perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini dilakukan di Desa Pondok Perasi Ampenan Kota Mataram Tahun 2023. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dan wawancara. Perbedaan pengasuhan oleh ibu tunggal dan bapak tunggal terlihat berbeda yaitu pada pengasuhan bapak mengguanakan pola asuh demokratis ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan, dan keinginannya. Dalam pengasuhan ibu menggunakan pola asuh permisif ditandai dengan adanya kebebasan yang diberikan pada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Hasil penelitian pengaruh perceraian terhadap perkambangan sosial emosional anak terlihat cukup baik dikarenakan kurangnya peran dari salah satu anggota keluarga, di mana orangtua single parent menempatkan diri sebagai bapak dan ibu sekaligus dalam mengasuh perkembangan sosial emosional anak. Keywords: Keluarga, Perkembangan Sosial Emosional, Perceraian. PENDAHULUAN Keluarga menurut Widiastuti (2015) adalah lembaga pertama dan utama bagi anak, yaitu tempat bersosialisasi yang memegang peranan penting bagi perkembangan kepribadian anak. Dalam keluarga, pertama kali anak mengenal arti hidup, cinta kasih, simpati, mendapat bimbingan dan pendidikan serta terciptanya suasana yang aman. Hal ini dapat dikatakan, keluarga memegang peranan penting untuk membentuk kepribadian. Akan tetapi, dalam kenyataanya, tidak semua keluarga dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Terdapat banyak persoalan yang dihadapi oleh anggota keluarga. Salah satunya terjadinya perceraian. Perceraian yang terjadi menimbulkan banyak hal yang tidak mengenakkan dan kepedihan yang dirasakan semua pihak, termasuk kedua pasangan, anak-anak, dan kedua keluarga besar dari pasangan tersebut. terdapat banyak faktor yang mengharuskan pasangan berpisah atau bercerai. salah satu alasan pasangan bercerai adalah masalah komunikasi. Pendidikan Menurut Montessori (2013) mengungkapkan bahwa “usia keemasan merupakan masa anak mulai peka untuk menerima berbagai stimulasi dan berbagai upaya pendidikan dari lingkungannya baik disengaja maupun tidak disengaja”. Agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, maka orang dewasa harus mampu mengembangkan potensi anak secara maksimal dengan memberikan stimulus-stimulus positif yang dibutuhkan oleh anak. Salah satu potensi anak yang harus dikembangkan pada periode sensitif adalah perkembangan sosial emosional hidup. Berdasarkan hasil observasi awal pada bulan Desember 2022 hasil anak perceraian memiliki masalah serius secara sosial maupun emosional atau dibandingkan dari anak yang orang tuanya tetap bersama. Anak dalam keluarga orangtua tunggal dapat melakukan semua hal dengan baik, tetapi cenderung tidak ISSN (Print): 2502-7069; ISSN (Online): 2620-8326