471 | Halaman (SENTIMAT) SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FPMIPA 2025 IKIP PGRI Bojonegoro TRAGEDI DAYAK–MADURA 2001: PERSPEKTIF PERSATUAN INDONESIA DALAM SILA KETIGA M. Amirul Fahmi 1 , Ahmad Syaifullah Al-Habib 2 , Firda Eka Safitri 3 , Fa’idhotur Rohmah 4 , Marlina Yuliyanti 5 , Day Ramadhani Amir 6 1 ,2,3,4,5,6 Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi, Ikip Pgri Bojonegoro E-mail: 1 amirulfahmi148@gmail.com, 2 hsyaifullah644@gmail.com , 3 safitrifirdaeka4@gmail.com, 4 ffaiq6196@gmail.com , 5 marlinayuliyanti26@gmail.com, 6 day.ramadhani@ikippgribojonegoro.ac.id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peristiwa konflik etnis yang terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah, pada tahun 2001, sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Konflik antara suku Dayak dan suku Madura ini mencerminkan kompleksitas dinamika sosial dalam masyarakat multikultural. Penelitian dilakukan melalui metode tinjauan literatur dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai referensi dari buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang membahas konflik etnis dan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ketiga: Persatuan Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa konflik dipicu oleh faktor struktural dan kultural, seperti ketimpangan ekonomi, marginalisasi sosial, serta lemahnya pengelolaan keberagaman. Temuan juga menunjukkan bahwa implementasi nilai persatuan belum berjalan optimal dalam konteks masyarakat plural. Upaya pasca-konflik, seperti rekonsiliasi sosial dan pendekatan berbasis kearifan lokal, menjadi kunci dalam membangun kembali kohesi sosial. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila secara konkret, pengembangan dialog antarbudaya, dan kebijakan multikultural yang adil dan inklusif guna mencegah konflik serupa di masa depan serta mewujudkan persatuan bangsa yang berkelanjutan. Kata kunci: Konflik Sampit, Dayak–Madura, Sila Ke-3 Pancasila, Persatuan Indonesia, Kebhinekaan. Abstract This study aims to analyze the ethnic conflict that occurred in Sampit, Central Kalimantan, in 2001, as one of the most severe humanitarian tragedies in modern Indonesian history. The conflict between the Dayak and Madurese communities reflects the complex dynamics of multicultural societies. This research employs a literature review method by collecting and analyzing references from books, journals, and scholarly articles related to ethnic conflict and the values of Pancasila, particularly the third principle: the Unity of Indonesia. The findings indicate that the root causes of the conflict stemmed from structural and cultural factors, including economic disparities, social marginalization, and weak diversity management. The study also reveals that the implementation of unity values was suboptimal within the context of a plural society. Post-conflict reconciliation efforts, such as social healing and local wisdom-based approaches, were essential in rebuilding social cohesion. This research emphasizes the importance of concretely reinforcing Pancasila values, fostering intercultural dialogue, and promoting fair and inclusive multicultural policies to prevent similar conflicts in the future and to realize sustainable national unity. Keywords: Sampit Conflict, Dayak–Madurese, 3rd Principle of Pancasila, Indonesian Unity, Diversity. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan yang dihuni oleh ratusan kelompok etnis dengan bahasa, budaya, dan identitas yang beragam. Keberagaman ini menjadi kekayaan sekaligus tantangan tersendiri dalam menjaga persatuan bangsa. Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" mencerminkan upaya negara dalam menyatukan keberagaman tersebut di bawah satu identitas nasional. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa kebhinekaan juga menyimpan potensi konflik, terutama ketika