Ulin - J Hut Trop Vol 8 (1): 149-159 pISSN 2599 1205, eISSN 2599 1183 Maret 2024dkk. – Ru DOI: http://dx.doi.org/10.32522/ujht.v8i1.14864 149 Ulin - J Hut Trop Vol 8 (1): 149-159 Komposisi vegetasi pada Daerah Aliran Sungai Pangasi Kawasan Cagar Alam Pangi Binangga Kabupaten Parigi Moutong Diah Natasya Arif Pramayanti 1* , Naharuddin 1,2 , Bau Toknok 1 , Abdul Rosyid 1 , I Nengah Korja 1 , Rizky Purnama 1 , Arman Maiwa 1 , Amati Eltriman Hulu 2 1 Program, Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia 2 Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (FORDAS) Sulawesi Tengah * E-Mail: diahnatasya74@gmail.com Artikel diterima : 11 Februari 2024 Revisi diterima 14 Maret 2024 ABSTRACT This research aims to determine the type and Importance Value Index (INP) of vegetation in the Pangasi River Watershed (DAS) in the Pangi Binangga Nature Reserve. The method used in collecting data is the plot method or plotted path method with four growth levels, namely trees 20 m x 20 m, poles 10 m x 10 m, stakes 5 m x 5 m and seedlings 2 m x 2m. Data analysis used the Importance Value Index (INP), a method commonly used in ecological studies. INP analysis includes several parameters, namely relative density, relative frequency, and relative dominance. The results of field identification found 532 individuals with 19 species. Results of Vegetation Analysis of Important Value Index at tree level dominated by Bayur (Pterospermum spp), at pole level dominated by Blackwood (Diospyros celebica bakh), at sapling level dominated by Pangi/Kepayang (Pangium edule) and at pole level dominated by Nyatoh (Palaquium obtusifolium). In general, of the four growth levels, Nyatoh ( Palaquium obtusifolium) is the most dominant plant in the Pangasi River Basin. Keyword: Vegetation, watershed, nature reserve, importance value index, pangi binangga ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pangasi yang berada di Cagar Alam Pangi Binangga. Metode yang digunakan dalam pengambilan data yaitu, metode plot atau metode jalur berpetak dengan empat tingkatan pertumbuhan yakni pohon 20 m x 20 m, tiang 10 m x10 m, pancang 5 m x 5 m dan semai 2 m x 2m. Analisis data menggunakan Indeks Nilai Penting (INP), suatu metode yang umum digunakan dalam studi ekologi. Analisis INP mencakup beberapa parameter yaitu kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi relatif. Hasil identifikasi lapang ditemukan 532 individu dengan 19 jenis. Hasil Analisis Vegetasi Indeks Nilai Penting tingkat pohon didominasi oleh Bayur (Pterospermum spp), tingkat tiang didominasi oleh Kayu hitam (Diospyros celebica bakh), pada tingkat pancang didominasi oleh Pangi/Kepayang ( Pangium edule) dan pada tingkat tiang didominasi oleh Nyatoh (Palaquium obtusifolium). Secara umum dari keempat tingkat pertumbuah tersebut, Nyatoh (Palaquium obtusifolium) merupakan tumbuhan paling dominan di Daerah Aliran Sungai Pangasi. Kata kunci: Vegetasi, daerah aliran sungai, cagar alam, indeks nilai penting, pangi binangga PENDAHULUAN Kawasan hutan, sebagai entitas ekologi yang kompleks dan penting, merupakan habitat bagi beragam flora dan fauna (Febrian dkk., 2024), serta menyediakan jasa ekosistem yang sangat penting bagi kelestarian lingkungan (Adnan & Purnomo, 2023). Vegetasi di dalam kawasan hutan memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi, menyediakan jasa lingkungan, dan mendukung berbagai fungsi ekosistem (Lestari & Tsanyiah Fauziah, 2022; Naharuddin, 2017). Keanekaragaman jenis dan struktur vegetasi hutan mencerminkan interaksi yang kompleks antara tanaman, kondisi lingkungan, dan siklus biogeokimia (Nosi dkk., 2023; Purba dkk., 2023). Sebagai penyumbang keseimbangan karbon dioksida dan sumber keanekaragaman hayati, vegetasi hutan tidak hanya menciptakan lingkungan yang optimal bagi berbagai organisme hidup, tetapi juga berperan sebagai penyokong utama ekosistem (Lewis Kapitarauw dkk., 2023; Radja dkk., 2023). Kondisi vegetasi di kawasan konservasi saat ini menunjukkan variasi yang kompleks, tergantung pada beberapa faktor termasuk jenis kawasan konservasi, tekanan dari manusia, dan dinamika lingkungan. Studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa kawasan konservasi berhasil mempertahankan integritas vegetasi dengan tingkat keanekaragaman hayati yang relatif tinggi, sementara kawasan lainnya mengalami degradasi vegetasi akibat aktivitas manusia. Tantangan seperti perambahan, deforestasi dan gangguan manusia lainnya dapat mempengaruhi struktur dan