Ruang Pertarungan dan Strategi Aktor di Arena Ekonomi Politik Lokal (The Space of Clash and Actor Strategy in Local Political Economic Arena) Sofyan Sjaf, 1 ABSTRACT Ketika kebijakan desentralisasi diberlakukan, tidak jarang aktor yang berbeda latar belakang dan identitas saling berlomba untuk memperebutkan sumber-sumber ekonomi dan politik lokal. Dalam perebutan tersebut, antar aktor melakukan pertarungan dan menerapkan strategi agar memangkan pertarungan dan mengukuhkan kekuasaan aktor. Untuk itu, pertanyaan yang diajukan adalah apa saja faktor yang membentuk ruang pertarungan aktor di arena ekonomi politik lokal? Kemudian, siapa dan bagaimana pertarungan yang terjadi antar aktor di arena ekonomi politik lokal? Selanjutnya bagaimana strategi yang dilakukan aktor untuk memenangkan pertarungan yang terjadi di arena ekonomi politik lokal? Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif berparadigma non-positivistik dengan perspektif strukturalisme-konstruktivisme. Unit analisis penelitian adalah aktor yang berlokasi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Adapun data diperoleh melalui wawancara mendalam, wawancara terstruktur, dan Focus Grup Discussion (FGD) kepada aktor dari latar belakang etnik (Tolaki, Muna, Buton, dan Bugis) dan profesi (politisi, birokrasi, akademisi, dan aktivis NGO) yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk mengetahui pertarungan, makan penting memahami praktik aktor di arena ekonomi politik lokal. Terdapat tiga praktik aktor yang dimaksud, yaitu praktik kultur kekuasaan etnik, praktik pengorganisasian ekonomi identitas, dan praktik politik identitas. Dengan demikian, terdapat tiga ruang pertarungan aktor: (1) ruang pertarungan kekuasaan ekonomi simbolis; (2) ruang pertarungan kekuasaan politik simbolis; dan (3) ruang pertarungan kekuasaan ekonomi-politik. Selanjutnya untuk memenangkan pertarungan, maka akor menerapkan strategi agar mampu tampi sebagai pemenang dalam pertarungan tersebut. Adapun strategi yang dimaksud, antara lain reproduksi simbolik, investasi simbolik, reproduksi wacana, membangun aliansi, invasi ekonomi, dukungan wacana, penyusupan simbolik, perlawanan, invasi kekuasaan, dukungan simbolik. Key words: ruang pertarungan, strategi aktor, dan arena ekonomi politik lokal. PENDAHULUAN Latar Belakang Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun oleh semangat nasionalisme berdasarkan struktur masyarakat majemuk (polietnik) dan keyakinan (polireligius). Realitas kondisi obyektif ini, diingatkan sekaligus dikritisi Furnivall sebelum Indonesia diproklamirkan. Furnivall mengingatkan akan terjadinya ancaman serius, apabila realitas tersebut tidak dijawab dengan baik. Namun perlahan-lahan, Tetapi, peringatan Furnivall perlahan-lahan menjadi kenyataan di Indonesia. Ledakan kekerasan komunal mulai terjadi diakhir tahun 50-an dan 1965, yang lebih parah lagi, Indonesia diguncang oleh kekerasan etnorelegius yang getir dari 1996 sampai 2001. Sebagian besar sosiolog dan antropolog berpendapat bahwa kekerasan komunal pasca Orde Baru, akibat dari tekanan rezim yang tidak memberikan “ruang ekspresi” bagi identitas masyarakat 1 Pengajar Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat FEMA IPB.