ADELE DAN KOMUNIKASI KEBERTUBUHAN (Sebuah Telaah Filsafat Komunikasi Kebertubuhan Maurice Merleau-Ponty) Oleh: Nurul Robbi Sepang 1 & Sari Monik Agustin 2 Universitas Al Azhar Indonesia Kompleks Mesjid Agung Al Azhar, Jl Sisingamangaraja, Jakarta Selatan n.robbi.s@gmail.com & monik@uai.ac.id Inti dari pemikiran Merleau-ponty dalam komunikasi kebertubuhan dalam tulisan ini adalah bahwa manusia, melalui tubuhnya, bersatu dengan dunia “luar tubuh”. Tubuh menjadi pusat eksistensi manusia. Manusia menjadi Ada karena kehadiran tubuhnya. Dalam pemikiran Merleau-Ponty, tubuh manusia selalu berada dalam dua suasana, yaitu suasana “Ada” – etre dan suasana “Memiliki” – avoir. Pemikiran Merleau-Ponty bersumber pada tubuh yang ambiguitas. Tubuh memiliki dwi arti, yaitu tubuh sebagai mesin, dan tubuh sebagai subyek. Artinya Merleau-Ponty menerima bahwa memang tubuh dapat bersifat seperti mesin (dalam suasana memiliki), namun tubuh juga bersifat sebagai subyek (dalam suasana ada). Adele adalah seorang diva baru dalam dunia tarik suara. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, Adele telah meraih berbagai penghargaan. Di bulan Februari 2012, Adele berhasil meraih 6 penghargaan di ajang Grammy Award ke-54 yang diselenggarakan di Los Angeles Amerika Serikat. Ini membuktikan bahwa Adele dapat dikatakan adalah ikon bagi kaum muda pada masa ini. Namun demikian, keberhasilan Adele di panggung musik dunia ternyata tidak menghentikan komentar miring atas dirinya. Salah satunya adalah komentar dari perancang rumah mode Chanel, Karl Lagerfeld. Lagerfeld mengecam bentuk tubuh Adele di berbagai media. Komentarnya mengenai tubuh Adele yang dinilai terlalu gemuk menuai banyak pro dan kontra. Tulisan ini melihat bagaimana fenomena ini dalam telaah filsafat komunikasi kebertubuhan Maurice Merleau-Ponty, terutama dikaitkan dengan pemikirannya mengenai ambiguitas tubuh. Tulisan ini menggunakan pendekatan konstruktivis dan hasil pemikiran tulisannya ini menyimpulkan bahwa berdasarkan pemikiran Merleau-Ponty, fenomena perbedaan pendapat atas perspektif dalam melihat tubuh memang selalu akan terjadi karena dalam komunikasi kebertubuhan Merleau-Ponty, tubuh dapat dilihat sebagai mesin, namun tubuh juga dapat dilihat sebagai subyek. 1 Penulis adalah Dosen di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia, FIKOM Universitas Pancasila dan Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia 2 Penulis adalah Dosen di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia dan Mahasiswa Prog. S3 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia