Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006) ISSN: 1907-5022 Yogyakarta, 17 Juni 2006 ADOPSI METODE PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI DI INDONESIA: STUDI ESKPLORATORI AWAL Fathul Wahid Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri,Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km. 14 Yogyakarta 55501, Telp. (0274) 895287 ext.122, Faks. (0274) 895007 ext. 148 E-mail: fathulwahid@fti.uii.ac.id ABSTRAKSI Metode pengembangan sistem informasi (information systems development methods, ISDM) dibuat untuk menjamin bahwa SI yang dikembangkan dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai dengan anggaran, dan sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Namun demikian, studi terhadap 32 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor menemukan adopsi ISDM di Indonesia masih rendah. Sebagian besar perusahaan mengembangkan metode sendiri dalam pengembangan SI yang sebagian di antaranya didasarkan pada ISDM yang sudah ada. Responden sepakat bahwa adopsi ISDM memberikan lebih banyak manfaat dibandingkan usaha yang harus dilakukan untuk mempelajarinya. Temuan-temuan studi ini didiskusikan dan beberapa saran penelitian lanjutan juga dipaparkan. Kata kunci: metode pengembangan sistem informasi, adopsi, sistem informasi. 1. PENDAHULUAN Survei yang dilakukan oleh Wynekoop and Russo (1997) terhadap literatur metode pengemba- ngan sistem informasi (information systems develop- ment methods, selanjutnya disingkat ISDM) mene- mukan bahwa sekitar separoh artikel penelitian tentang ISDM bersifat normatif dan tidak didasarkan pada temuan empiris atau analisis teori, tetapi lebih didasarkan pada spekulasi dan opini penulis. Separoh artikel yang melaporkan temuan empiris mengevaluasi ISDM atau hanya bagian dari ISDM. Yang menarik, hanya sedikit penelitian yang dilakukan untuk melihat bagaimana ISDM dipilih atau diadopsi, atau bagaimana ISDM tersebut digunakan (Beynon-Davies dan Williams, 2003). Penelitian sebelumnya yang dilakukan terhadap penggunaan ISDM melaporkan temuan yang beragam. Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan ISDM dapat membantu pengembangan sistem informasi sehingga lebih efisien (e.g. Fitzgerald, 1998), sedang beberapa yang lain menemukan bahwa ISDM tidak banyak digunakan dan beberapa melaporkan penggunaan ISDM dapat membengkakkan biaya pengembangan sistem informasi (e.g. Guimaraes, 1985; Holt, 1997; Jenkins, 1984; Summer dan Sitek, 1986). Penelitian tentang adopsi ISDM belum pernah dilakukan di Indonesia. Padahal seperti diketahui, seperti halnya di banyak negara, ISDM – atau sering disebut dengan metode formal pengembangan sistem informasi – juga menjadi bagian dari kurikulum program studi teknik informatika, sistem informasi, dan ilmu komputer di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini secara umum ditujukan untuk melihat adopsi ISDM oleh perusahaan di Indonesia dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan adopsi ISDM tersebut. Secara spesifik pertanyaan yang akan dijawab penelitian ini adalah (a) bagaimana adopsi ISDM oleh perusahaan di Indonesia?; dan (b) apa manfaat dan kerugian dalam mengadopsi ISDM? Selanjutnya, tulisan ini dibagi dalam beberapa bagian. Bagian 2 memberikan landasan teori terkait dengan ISDM, bagian 3 menjelaskan metode peneli- tian yang digunakan, dan bagian 4 mendeskripsikan hasil. Bagian 5 yang mendiskusi-kan temuan-temuan menutup tulisan ini. 2. LANDASAN TEORI 2.1 Apa dan Mengapa ISDM? Avison dan Fitzgerald (2003, hal. 20) mendefinisikan information systems development method (ISDM) sebagai: “A collection of procedures, techniques, tools, and documentation aids which will help the system developers in their efforts to implement a new information system. A methodology will consist of phases, themselves consisting of subphases, which will guide the system developers in their choice of the techniques that might be appropriate at each stage of the project and also help them plan, manage, control, and evaluate information systems project” Pada literatur sistem informasi ditemukan bahwa terdapat dua kubu dalam memandang penggunaan ISDM: kubu yang mendukung dan kubu yang menolak (Fitzgerald, 1998). Setiap kubu mempunyai alasannya masing-masing. Salah satu alasan yang digunakan oleh kubu yang mendukung penggunaan ISDM adalah bahwa ISDM dapat memberikan framework yang jelas untuk penggunaan teknik dan sumberdaya pada waktu yang tepat selama proses pengembangan sistem informasi. Di samping itu, kubu ini juga melihat adanya sisi ekonomis yang memungkinkan spesialisasi dan pembagian kerja (seperti analisis, perancangan, pembuatan program, dan pengujian) sehingga renumerasi setiap aktor yang terlibat pada setiap tahap dapat berbeda-beda (Fitzgerald, 1998). Di samping itu, ISDM yang dikembangkan dengan keterlibatan lembaga pemerintah seringkali E-123