213 Agama, Tradisi dan Kesenian dalam Manuskrip La Galigo Sari 26 (2008) 213 - 220 Agama, Tradisi dan Kesenian dalam Manuskrip La Galigo NURHAYATI RAHMAN ABSTRAK Manuskrip La Galigo adalah warisan orang Bugis. Ia pada intinya mengandungi empat aspek: keagamaan, kitab suci, tradisi dan kesenian. Sebelum menganut Islam, orang Bugis mempercayai ajaran daripada La Galigo bahawa Dewa tertinggi mereka adalah Patotoqé yang bermukim di Boting langiq dan Dewi Sinauq Toja yang bermukim di Buri Liu. Kepercayaan itu telah melahirkan upacara dan tradisi yang sampai kini masih dapat ditemui dalam kebudayaan orang Bugis. Penjaga dan penyelamat La Galigo adalah Bissu dan Sanro. Kalau Bissu adalah pendeta banci yang berfungsi sebagai penghubung antara manusia dengan dewa, maka Sanro pula adalah pengamal yang berada di belakang layar dan bertugas menyediakan peralatan dan bahan-bahan serta alat upacara. Hampir setiap upacara biasa manusia, penurunan padi, naik rumah dan sebagainya selalu ada Sanro dan Bissu. Gambaran itu memperlihatkan kaitan La Galigo dengan agama, tradisi dan kesenian. Kenyataan ini memperlihatkan betapa rumitnya kesenian tradisi itu. Di dalamnya terdapat kuasa dalaman yang bersangkut paut dengan sukma pemilik kesenian itu. Oleh itu, orang yang ingin mengusung kesenian sakral di luar konteksnya tanpa memperhitungkan kesakralannya dan perasaan pendukungnya, akan mendapati sukma ini akan kehilangan auranya, dan yang tertinggal cuma onggokan kreativiti yang tidak berjiwa. Kata kunci: La Galigo, sumber maklumat, kebudayaan, orang Bugis ABSTRACT The La Galigo manuscript is the priceless inheritance for Buginese. It includes of four aspects as its essence. They are religion, sacred book, tradition and art, Before Islam came, Buginese believed La Galigo as a view of life whorshiping the highest God namely Patotoqé who stays in Botting langiq and also Dewi Sinauq Toja who stays in Buri Liu. This faith has spawn ceremonies and traditions that persist in Buginese culture until nowadays. The guardian and savior of La Galigo are Bissu and Sanro. If Bissu is a transvestite priest who has a duty to connect human life to the god, then Sanro is a behind-the screen practitioner who provides all the equipment needed for the ceremony. Almost in every human traditional ceremony, including harveting of grain and entering a new house, Sanro and Bissu are there. This shows La Galigo has strong sari26-2007[14]new.pmd 06/26/2008, 16:53 213