Nilai-nilai Ideologi dan Sikap Kepengarangan: Sebuah Kajian atas Sastra Drama Karya N. Riantiarno 1 M.Yoesoef, M.Hum. Departemen Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Abstrak Nano Riantiarno menulis sastra drama sejak tahun 1970-an. Sampai saat ini tidak kurang dari 40 naskah sastra drama yang telah dibuatnya dan dipentaskan oleh grup teater binaannya, yaitu Teater Koma. Satu hal yang menjadi ciri khas dari karya-karya Nano Riantiarno adalah menampilkan tokoh-tokoh dari kalangan kelas sosial menengah bawah, kendati ada juga karyanya yang menampilkan kelas sosial atau penguasa. Tampilnya kalangan kelas sosial menengah bawah tersebut secara dominan pada sejumlah karyanya mengindikasikan keberpihakan pengarang terhadap nasib dan persoalan-persoalan yang dihadapi kaum marjinal tersebut. Karya Nano Riantiarno yang ditulis tahun 1970-an dan empat di antaranya meraih penghargaan sayembara penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta (1972, 1973, 1974, dan 1975), tahun 1980-an ia menulis kurang lebih lima drama opera dan saduran dari penulis dunia seperti Bertolt Brecht, Friederich Durennmat, tahun 1990-an menyadur cerita rakyat Tionghoa “Sampek dan Engtay”, “Opera Sembelit”, dan tahun 2000-an ia lebih banyak membuat novel. Karya-karya dramanya itu menunjukkan sebuah perjalanan ideologi pengarang yang tidak dapat dipisahkan dari motivasinya untuk menyoroti permasalahan yang mengemuka pada masanya. Kajian dalam makalah ini pada dasarnya menyoroti nilai-nilai ideologis pengarang yang tersirat maupun tersurat dari sejumlah karya tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah sosiologi sastra yang berkaitan dengan pengarang, teks, dan konteks sosial pada masa karya itu ditulis atau dipertunjukkan. Karya sastra merupakan dokumen sosial yang memuat pikiran, harapan, dan kritik pengarang (dan juga masyarakat secara kolektif) terhadap situasi zaman. Dengan memahami karya-karya sastra drama yang ditulis Nano Riantiarno diperoleh sebuah pemahaman tentang persoalan orang-orang kecil yang bergumul dengan kehidupan metropolitan Jakarta. Karya-karya itu juga dapat dilihat sebagai indikator adanya berbagai masalah sosial-politik-budaya Indonesia pada masanya. Pendahuluan Dalam kurun waktu tahun 1970-an disebutkan oleh Jakob Sumardjo sebagai masa keemasan terater modern Indonesia. Sebutan yang dilansir oleh Jakob Sumardjo itu dilandaskan pada tumbuhnya grup-grup teater, yang sebagian besar dibidani oleh Dewan Kesenian Jakarta melalui kegiatan tahunan berupa Festival Teater Remaja Jakarta. Di samping itu, grup-grup teater seperti Bengkel Teater Yogya, Teater Populer, Teater Lembaga, Teater Mandiri, Teater Kecil, Teater 1 Makalah ini dipresentasikan dalam Seminar Antarbangsa Kesusastraan Asia Tenggara 2010, Majelis Kesusastraan Asia Tenggara (MASTERA), di Hotel Santika, Jakarta pada tanggal 27—28 September 2010. SEMINAR ANTARBANGSA KESUSASTRAAN ASIA TENGGARA (SAKAT) 1