STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK PADA INDUSTRI KECIL OBAT TRADISIONAL DI INDONESIA SERTA PERAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGANNYA Mohd. Harisudin 1 Pendahuluan Dalam memenangkan persaingan untuk memenuhi permintaan pasar, dunia usaha dituntut meningkatkan efisiensi proses produksinya sekaligus meningkatkan efektivitas dalam mencapai tujuan-tujuannya. Industri yang tidak menerapkan mindset yang demikian akan tergilas oleh derasnya arus persaingan yang diterapkan para kompetitornya. Mindset tersebut telah menjadi ideologi bisnis bagi pelaku usaha, terutama yang ingin masuk dalam persaingan global. Dampak dari lahirnya kekuatan pelaku usaha yang berorientasi pada pasar global telah dirasakan pelaku usaha secara keseluruhan, bahkan pelaku usaha yang hanya menjual dalam wilayah geografis kecilpun merasakan dampak kekuatan tersebut. Dari sisi pelaku usaha, perubahan yang terjadi dalam persaingan oleh sebagian pelaku usaha dianggap sebagai ancaman, namun perusahaan sejenis lainnya ada yang menerjemahkan sebagai suatu tantangan, sekaligus peluang besar bagi pengembangan usahanya. Dengan kata lain, ancaman ataupun peluang bisnis sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan memahami perubahan yang terjadi dan meresponnya dalam bentuk sikap dan tindakan ke depan melalui suatu perencanaan yang sistematis. Meskipun peran pemerintah sebagai regulator sekaligus dinamisator memang tetap diperlukan, terutama dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif, namun demikian dari sisi pelaku usaha mindset yang harus ditumbuh kembangkan adalah bagaimana rumusan strategi perusahaan untuk dapat bertumbuh kembang pada kemampuannya sendiri. Kasus semakin pendeknya daur hidup produk ( product life cycle) atau jasa yang ada adalah sebagai “kelalaian” pihak manajemen perusahaan yang tidak mampu menyesuaiakan dinamika perubahan perilaku konsumen/pasar. Seiring dengan semakin besarnya gaya hidup back to nature, penjualan produk berbahan herbal meningkat pesat. Sebagai ilustrasi, penjualan produk suplemen makanan dunia tahun 1998 mencapai US$ 40 milyar, dan sejumlah US$ 19,8 milyar merupakan produk yang dibuat dari bahan herbal (Dennin, 2000). Dari sumber yang lain, penjualan produk herbal mencapai US$ 30 milyar pada tahun 2000 dari US$ 12,4 milyar pada tahun 1994. Pertumbuhan perdagangan antara tahun 1990-1997, rata-rata mencapai 25% per tahun untuk produk-produk herbal supplement dan 5-15% untuk produk-produk herbal medicine (ITC, 2001). 1 Jurusan Agrobisnis Fak. Pertanian Univ. Sebelas Maret Surakarta. Email address: Harisudin@lycos.com KONPERNAS PERHEPI 2007 [05] -33