Mencari Relasi Harmonis Antar Hukum dan Kekuasaan Oleh : MIRZA SATRIA BUANA, S.H, M.H * A man should take courage when about to die, and be of good hope, aſter leaving this life, he will aain to the greatest good yonder (Socrates) Pendahuluan Indonesia sebagai sebuah negara hukum sebagaimana yang diamanahkan dalam UUD 1945 yang berkedudukan sebagai hukum dasar negara ( supreme law of state), menyatakan secara eksplisit bahwa negara dijalankan berdasarkan hukum 1 , hal ini mempertegas konsep kedaulatan hukum dalam negara. Namun apa yang menjadi das sollen diatas masih terasa jauh panggang dari api. Terlebih bila kita mendengar, melihat dan membaca berita-berita yang mempertontonkan secara telanjang bobroknya supremasi hukum di Indonesia. negara yang seharusnya bermahkotakan hukum, pada prakteknya malah bermahkota polik kekuasaan semata, dan efek domino yang dirasakan warga negara adalah teralienasi-nya nilai-nilai keadilan dan kebenaran yang seolah hanya dapat ditakar oleh pundi-pundi uang semata. Sudah menjadi rahasia umum dimana produk hukum yang seharusnya bertujuan untuk menciptakan rasa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat direkayasa menjadi produk polik semata yang hanya bertujuan untuk mengisi pundi-pundi uang para penguasa dan oligar-oligar rakus di parlemen; ini sungguh sebagai sebuah potret realitas penselingkuhan najis antara penguasa dengan pengusaha. Kenyataan empiris tersebutlah yang seakan menjadi jusfikasi dari teori Prof. Mahfud MD yang menyatakan “hukum sebagai produk polik”. Sungguh dak bisa dinafikkan bahwa keadaan Indonesia pada masa ini dapat dianalogikan seper keadaan “Kandang-Kandang Sapi Raja Augeas” 2 yang kotor dan bau. * 1 UUD 1945 Pasal 1 Ayat 3 menyatakan “Negara Indonesia adalah negara hukum” 2 Islah ini diambil dari mitos Yunani kuno, tentang tugas-tugas Hercules ( The Labour of Hercules), tugas ke-5 Hercules adalah untuk membersihkan Kandang-Kandang Sapi Raja Auges yang sangat besar, luas, kotor dan bau. Hercules akhirnya dapat membersihkan kandang-kandang sapi tersebut dengan menggunakan akalnya. Dia membangun bendungan besar yang akan mengarahkan arus sungai untuk membanjiri kandang-kandang sapi tersebut. Dalam konteks Indonesia, siapakah yang mau dan rela menjadi seorang Hercules? 1