Pesantren Modern dan Pendidikan Multikulturalisme - Kembali ke Riset - — Halaman Muka … — PESANTREN MODERN DAN PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME (Observasi atas Sistem Pendidikan di Pondok Modern Darusslam Gontor dan Al-Amien Prenduan) Ahmad Taufiq Abdurrahman MA· * Abstrak Tragedi Bom Bali menjadi awal tudingan umum pesantren sebagai sarang teroris yang mengesahkan aksi kekerasan atas nama agama. Penghuninya dicap ekslusif, jumud, kaku, dan tidak toleran. Syak wasangka ini marak sejak tertangkapnya Imam Samudra dan Amrozi cs, sebagai pelaku peledakan bom. Ironisnya, mereka ternyata jebolan pesantren. Wajar saja jika tudingan dialamatkan ke institusi ini. Islamphobia merebak, dan pesantren dan alumni pesantren pun terstigmakan. Menyikapinya, maka sepanjang tahun 2005-2006 International Center for Islamic and Pluralism (ICIP) meriset 20 pesantren di Jawa Barat dari 2200 pesantren yang tergabung dalam Badan Kerjasama Pondok pesantren se- Indonesia (BKSPPI). Penelitian itu mengkaji betulkah kalangan pesanten mengesahkan tindak kekerasan dan tidak ramah terhadap perbedaan? Tema-tema yang diteliti seputar wacana multikulturalisme, semisal toleransi, demokrasi, gender, dan syariat Islam. Hasil penelitian menunjukkan, pemahaman sejumlah kalangan pesantren di Jawa Barat, belum sepenuhnya dapat menerima kenyataan multikulturalisme. Laporan ilmiah ini masih menyisakan perdebatan fundamental, karena objek riset dianggap kurang representatif mewakili wajah pesantren keseluruhan, khususnya pondok pesantren modern yang luput dari penelitian tersebut. Dari alasan inilah kiranya perlu dilakukan penelitian kembali secara lebih komprehensif dan representatif. Makalah ini memfokuskan kajian dalam observasi kecil terhadap sistem pendidikan dan pembelajar di pondok modern, khususnya pendidikan multikulturalisme, dengan model utama Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Madura. Hasilnya diharapkan dapat menyingkap potensi kedua pondok pesantren ini menjalankan misi strategis pendidikan Islam berwawasan multikultural.