(Terbit dalam Melawan Hegemoni Barat : Ali Shariati dalam Sorotan Cendikiawan Indonesia, M. Deden Ridwan, ed. 1999. Jakarta: Penerbit Lentera). DIALEKTIKA CERITA QABIL DAN HABIL; PERGESERAN DARI KISAH AL-QURAN KE SOSIOLOGI AGAMA Noryamin Aini * A. Pendahuluan Realitas keagamaan erat kaitannya dengan cara pandang keduniaan. Cara pandang ini melalui peran individu sebagai subjek akan menentukan realitas wajah agama sosiologis. 1 Dalam pemikiran Ali Shariati, realitas keagamaan dapat disimak melalui perspektif filsafat sosio-historisnya. Bab ini berupaya mendisuksikan bagaimana Shariati mendeskripsi agama sosiologis, terutama idea tentang cerita pembunuhan yang dilakukan dan dialami oleh dua orang anak Adam. B. Ali Shariati dan Falsafat Sejarahnya Ali Shariati lahir dan besar di bawah didikan keluarga yang sangat religius. Pada usia formatif, Shariti banyak digembleng oleh ayahnya, Muhammad Taqi Shariati. Gemblengan ini meninggalkan bekas yang sangat mempengaruhi masa depan pemikiran Shariati Hal ini diakui sendiri oleh Shariati. Katanya, bapak saya menciptakan dimensi-dimensi mula dari semangat saya. Dialah yang pertama-tama mengajarkan kepada saya seni berfikir dan seni menjadi manusia . Saya menjadi besar dan matang dalam perpustakaannya yang baginya merupakan seluruh kehidupan dan keluarganya. 2 Shariati memang memiliki banyak keunggulan. Berbekal dengan kecerdasan, kreativitas dan ketajaman analisisnya, Shariati secara kritis mampu dan secara radikal berani menyajikan tafsiran-tafsiran yang sangat berbeda tentang wacana tekstual ajaran Islam yang sudah mapan. Tidak hanya itu, tafsiran Shariati bahkan tidak jarang membuat orang mengerutkan dahinya dan mempertanyakan kebenaran tafsiran-tafsiran lama. M. Amien Rais, dalam kata pengantarnya untuk penerbitan * Staf pengajar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1 Penulis ingin membedakan definisi agama pada dua tataran yang berbeda, yaitu agama teks dan agama konteks. Dengan agama teks dimaksudkan seluruh doktrin keagamaan yang tertuangkan dalam teks-teks keagamaan. Agama pada tataran ini belum dicampuradukkan dan dipengaruhi oleh segala bentuk interpretasi pemeluknya dalam rangka proses mempraktekkan dan membumikan dokktrin tersebut. Dari beberapa sisi, agama teks dapat disejajarkan dengan agama ideal (normatif). Sementara itu, dengan agama konteks dimaksudkan seluruh ajaran-ajaran keagamaaan yang praksis dalam kehidupan keseharian. Pada tataran ini, konsep keagamaan sudah menyatu dengan sekian banyak faktor eksternal, seperti belief system, cara pandang budaya, sosial, politik, dan keyakinan tradisional. Agama konteks ini tidak jarang menampakkan diri berbeda dengan konsep-konsep agama ideal. Agama konteks dapat juga disebut sebagai agama fenomenal. Para ahli sosiologi agama ketika membincang masalah agama, apa yang mereka maksudkan lebih sebagai agama konteks atau agama sosiologis. Untuk mengetahui bagaimana agama teks bersinggungan dengan nilai-nilai lokal, silahkan umpama lihat Woodward, 1989, Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogjakarta, Tascun: University of Arizona Press. 2 Dikutip dari Sachedina, 1987, Ali Shariati, Ideologi Revolusi Iran, dalam John L. Esposito (ed), Dinamika Kebangunan Islam, Jakarta: Rajawali Press, hal 237.