Karakterisasi Cara penulis menggambarkan karakter. Ada banyak cara untuk menggali penggambaran karakter, secara garis besar karakterisasi ditinjau melalui dua cara yaitu secara naratif dan dramatik. Teknik naratif berarti karakterisasi dari tokoh dituliskan langsung oleh penulis atau narator. Teknik dramatik dipakai ketika karakterisasi tokoh terlihat dari antara lain: penampilan fisik karakter, cara berpakaian, kata-kata yang diucapkannya, dialognya dengan karakter lain, pendapat karakter lain, dsb. Konflik Konflik adalah pergumulan yang dialami oleh karakter dalam cerita dan . Konflik ini merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada akhirnya membentuk plot. Ada empat macam konflik, yang dibagi dalam dua garis besar: Konflik internal Individu-diri sendiri: Konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik ini ditandai dengan gejolak yang timbul dalam diri sendiri mengenai beberapa hal seperti nilai-nilai. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya menghadapi gejolak tersebut Konflik eksternal Individu – Individu: konflik yang dialami seseorang dengan orang lain Individu – alam: Konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri dalam kebesaran alam. Individu- Lingkungan/ masyarakat : Konflik yang dialami individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya. a. Konflik-konflik intrapersonal Konflik-konflik yang ada di dalam diri individu atau konflik-konflik intrapersonal, yakni konflik-konflik antara kecemasan-kecemasan eksistensial yang inheren pada keberadaan, dengan ketidakjujuran yang digunakan individu sebagai pertahanan melawan kecemasan-kecemasan eksistensial itu. Karena kecemasan eksistensial itu aadalh konsekuensi alamiah dari kesadaran atas ketiadaan, maka pertahanan yang ‘logis’ untuk melawannya adalah kebohongan atau ketidakjujuran yang merupakan perwujudan dari ketidakontetikan, yakni individu secara sadar berbohong kepada dirinya sendiri bahwa dia adalah manusia sempurna yang kebal dari batas-batas kemanusiaan (tidak dapat mati, maha tahu, maha kuasa). Selama ketidakjujuran atau kebohongan itu bersemayam dalam diri individu, maka selama itu pula individu harus terus-menerus berpura-pura bahwa dirinya tidak berbohong. Dalam terapi, usaha terapis mengkonfrontasikan kebohongan pasien kepada dirinya