1 PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KELUARGA PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. (PKn dan Hukum – FISE - UNY) A. Pendahuluan Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah untuk manusia. Sebagai agama terakhir Islam dilengkapi dengan seluruh perangkat aturan (hukum) yang mampu menjangkau seluruh manusia di mana pun dan kapan pun. Untuk hal ini Allah menurunkan wahyu sebagai sumber dari segala sumber aturan yang dapat digunakan manusia dalam mengatur segala urusan dan persoalan. Wahyu dimaksud adalah al-Quran yang diturunkan kepada manusia melalui Nabi Muhammad saw. Al-Quran memuat wahyu yang isinya mencakup keseluruhan isi wahyu yang pernah diturunkan kepada para Nabi sebelum Muhammad. Isi al-Quran mencakup keseluruhan aspek kehidupan manusia, mulai dari masalah aqidah, syariah, dan akhlak, hingga masalah-masalah yang terkait dengan ilmu pengetahuan. Sebagai agama samawi terakhir, Islam membawa misi rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) (QS. al-Anbiya’ [21]: 107). Artinya, risalah Islam menjangkau seluruh umat manusia di muka bumi ini hingga akhir zaman nanti. Siapa pun yang hidup pada masa Nabi Muhammad saw. dan setelahnya hingga hari akhir kelak, harus menerima risalah Islam. Karena itulah, Islam dijadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya agama yang benar (QS. Ali ‘Imran [3]: 19 dan 85) dan berlaku hingga akhir zaman nanti. Islam juga agama paling lengkap yang isinya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek kehidupan dalam keluarga dan di masyarakat, dalam hubungan kenegaraan, maupun hubungan ibadah kepada Tuhan. Untuk semua aspek ini al-Quran menetapkan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan ini akan mencoba mengkaji satu aspek kehidupan manusia yang sangat penting dan mendasar, yakni kehidupan keluarga. Perlu ditegaskan, bahwa keluarga adalah miniatur dari suatu negara yang menjadi bagian penting dan tumpuan kemajuan dan kemunduran suatu negara. Keluarga yang kuat dan harmoni menjadi modal yang sangt berharga untuk memajuan dan memperkuat suatu negara. Sebaliknya, hancurnya