1 “Gagasan Manusia Indonesia dan Politik Kewargaan Indonesia Kontemporer” 1 Robertus Robet Robertusrobet@gmail.com I. Latar Belakang: Dari ‘Monyet Inlander’ ke Great Historical Men Simpul persoalan mengenai kewargaan kontemporer dapat diajukan dalam sebuah pertanyaan : siapakah manusia Indonesia itu? Apakah ia merupakan identitas terberi atau hasil dari suatu konstruksi, relasi dan kontradiksi sosial? Untuk menjawab ini kita akan memulai melalui Pramudya Ananta Toer. Pada mulanya, setidaknya bagi pandangan kolonial, ‘manusia Indonesia’ tidak lebih dari seekor monyet. Pramudya Ananta Toer mengungkap pandangan ini lewat ucapan sang patriak kolonial “Tuan Mellema’ ketika menghardik Minke sang pahlawan ‘pribumi’ dalam Bumi Manusia dengan ungkapan: “Kowe kira, kalo sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap monyet!” 2 Pandangan rasis ini mendasari praktek kekuasaan kolonial yang serba kontradiktif. Di satu sisi ia memposisikan ‘pribumiæ sebagai mahluk lemah, rendah dan pemalas, di sisi lain ‘si pribumi‘ yang sama diperas dalam perbudakan. Bagaimana mungkin seorang dalam status budak dikenakan predikat lemah dan malas? Kontradiksi ini mengungkap hubungan yang unik dan kompleks antara pandangan antropologis kolonial dengan ekonomi-politik kolonial yang menjaganya. Jan Breman mengutip sebuah laporan yang ditulis pada tahun 1919 yang menerangkan kembali keadaan sebagai berikut: Dalam tatanan kolonial tenaga kerja selamanya terdiri dari orang Timur yang sebagian rendah sekali statusnya. Pengawasan berada di tangan orang-orang yang sadar akan superioritas rasialnya, dan mereka semua hidup dalam tradisi hubungan yang patriarkat. 3 Di sini yang mau ditekankan adalah bahwa penanaman kewargaan (budak/pribumi dan tuan kulit putih) merupakan bagian instrumental untuk berlangsungnya penguasaan kolonial yang lebih besar. Supaya penjajahan bisa terus dilangsungkan maka sang terjajah mesti terlebih dahulu disematkan suatu identitas ras yang inferior. Dengan demikian pribumi mesti terlebih dahulu 1 Bentuk awal Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah PRISMA, LP3ES Jakarta. 2 Lihat dalam Pramudya Ananta Toer (2006), Bumi Manusia (Lentera Dipantara: Jakarta), hlm. 64. 3 Jan Breman (1997) Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial pada awal Abad ke-20 (Pustaka Utama Grafiti: Jakarta), hlm. 209.