Seminar Nasional “Sustainability dalam Bidang Material, Rekayasa dan Konstruksi Beton” 96 TRASS, MASA DEPAN BAGI POZZOLAN ALAM SEBAGAI AGREGAT ALTERNATIF UNTUK CAMPURAN BETON Bambang Suryoatmono 1 , Rr. M.I. Retno Susilorini 2 ABSTRAK Pozzolan dikenal sebagai material alam ataupun buatan yang mengandung silika aktif. Aplikasi Pozzolan untuk bahan bangunan dikenal sejak jaman purba hingga era modern saat ini. Seiring perkembangan teknologi beton, pemakaian Pozzolan sebagai agregat alternatif untuk campuran beton bertujuan untuk meningkatkan kekuatan tekan, durabilitas, panas hidrasi, dan ketahanan kimiawi. Trass, yang merupakan salah satu jenis Pozzolan alam, telah menjadi pilihan bagi pengguna bahan bangunan untuk memperoleh kinerja struktur beton yang lebih baik. Tulisan ini akan mengupas beberapa hasil penelitian tentang pemakaian pozzolan alam jenis trass yang telah dilakukan di berbagai belahan bumi. Berbagai topik penelitian yang lebih mendalam dibutuhkan untuk menjamin perkembangan dan masa depan trass sebagai agregat alternatif. Trass adalah masa depan agregat alternatif untuk campuran beton. Kata kunci: Trass, pozzolan alam,agregat, beton 1. Pendahuluan Beberapa dekade terakhir, kota-kota besar di dunia telah dipenuhi oleh bangunan-bangunan beton dan infrastruktur yang memanfaatkan teknologi beton. Berkembang pesatnya teknologi beton bagi pembangunan infrastruktur di era modern berarti juga meningkatnya manufaktur semen. Taylor, et. al. (2006) meyampaikan bahwa menurut catatan USGS tahun 2006, produksi semen merajai negara-negara berkembang, khususnya Cina yaitu sebesar 47% dari seluruh produksi dunia, sedangkan India, Thailand, Brazil, Turki, Indonesia, Iran, Mesir, Vietnam, dan Saudi Arabia memegang 17% dari seluruh produksi dunia. Produksi semen yang progresif ini menyumbangkan emisi gas CO 2 secara signifikan. Meyer (2002) menegaskan bahwa industri semen adalah produsen gas rumah kaca dan pengguna energi yang terbesar di dunia. John (2003) bahkan menyatakan bahwa akibat yang harus diderita oleh masyarakat global akibat kehadiran industri semen adalah pemanasan global. Bahkan menurut Humphreys dan Mahasenan (2002), diperkirakan bahwa industri semen bertanggungjawab terhadap 3% dari emisi gas rumah kaca dunia dan 5% dari emisi gas CO 2 dunia. 1 Dosen Tetap, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung 2 Dosen Tetap, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang Back to Table of Contents