INDIKATOR KEBERHASILAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN OLEH DIDI RUKMANA 1. PENDAHULUAN Apa yang lazim disebut sebagai ilmu ekonomi tradisional (traditional economics) memusatkan perhatiannya pada alokasi paling efisien atas segenap sumber daya yang langka, serta upaya memanfaatkan sumber daya secara optimal agar dapat menghasilkan sebanyak mungkin barang dan jasa. Ilmu ekonomi neoklasik tradisional menitikberatkan pembahasannya pada aspek-aspek ekonomi dunia kapitalis, yakni mulai dari pasar sempurna, kedaulatan konsumen, penyesuaian harga secara otomatis, perumusan keputusan yang didasarkan pada kalkulasi marjinal, laba, dan kepuasan, serta pentingnya keseimbangan atau ekuilibrium atas segenap pasar output (penawaran dan permintaan barang dan jasa) dan pasar input (penawaran dan permintaan sumber-sumber daya atau faktor-faktor produksi, yakni tenaga kerja, modal, dan teknologi). Aliran ini mengasumsikan adanya rasionalitas ekonomi di kalangan pelaku ekonomi. Artinya, mereka akan senantiasa mendasarkan tindakan dan pilihannya pada perhitungan untung- rugi. Mereka juga diasumsikan memiliki atau menganut orientasi materialistis dan mengutamakan kebutuhan atau kepentingannya sendiri dalam setiap proses pembuatan keputusan ekonomi. Ilmu ekonomi pembangunan (development economics) mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dari ilmu ekonomi tradisional. Selain mengupas cara-cara alokasi sumber daya seefisien mungkin serta kesinambungan pertumbuhannya dari waktu ke waktu, ilmu ekonomi pembangunan juga memberi perhatian pada mekanisme-mekanisme ekonomi, sosial, politik, dan kelembagaan, baik yang terkandung dalam sektor swasta maupun pemerintah. Jangkauan atau cakupan ilmu ekonomi pembangunan itu lebih luas dari ilmu ekonomi neoklasik tradisional atau bahkan ilmu ekonomi politik. Logika yang utama adalah, karena ilmu ekonomi pembangunan tersebut langsung berkaitan dengan keseluruhan proses politik dan ekonomi yang diperlukan untuk mempengaruhi transformasi struktural dan kelembagaan