148 Jurnal Litbang Pertanian, 30(4), 2011 BIOEKOLOGI DAN PENGENDALIAN PENGOROK DAUN Liriomyza chinensis KATO (DIPTERA: AGROMYZIDAE) PADA BAWANG MERAH Nurnina Nonci dan Amran Muis Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah, Jalan Lasoso No 62, Biromaru, Kotak Pos 51 Palu Telp. ( 0451) 482546, Faks. ( 0451) 482549, E-mail: bptp_sulteng@litbang.deptan.go.id, bptpsulteng@yahoo.com Diajukan: 30 Agustus 2010; Diterima: 23 Agustus 2011 ABSTRAK Dalam beberapa tahun terakhir, petani bawang merah di daerah Lembah Palu resah karena adanya serangan lalat pengorok daun (Liriomyza chinensis) yang dapat menyebabkan gagal panen. Keberadaan hama ini di Lembah Palu dilaporkan pada tahun 2007. L. chinensis merusak daun tanaman bawang yang baru tumbuh hingga tanaman tua. Seekor imago betina meletakkan telur 50-300 butir. Telur berwarna putih bening, ukuran 0,28 mm x 0,15 mm, dan lama stadium telur 2-4 hari. Larva terdiri atas tiga instar. Stadium larva berlangsung 6-12 hari dengan ukuran larva instar 3 adalah 3,5 mm. Stadium pupa berlangsung 11-12 hari. Imago berukuran panjang 1,7-2,3 mm. Imago betina mampu hidup 6-14 hari, sedangkan imago jantan 3-9 hari. Siklus hidup L. chinensis sekitar 3 minggu. Tanaman inang utama L. chinensis adalah bawang merah, bawang putih, dan bawang daun. Beberapa cara pengendalian L. chinensis yaitu: 1) teknik budi daya dengan melakukan penanaman pada musim kemarau, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan jenis bawang-bawangan, dan penggunaan varietas tahan seperti varietas Kuning 19, Bima, Sumenep, dan Bauji, 2) penggunaan perangkap likat kuning dan perangkap berjalan, 3) penggunaan musuh alami parasitoid Halticoptera circulus (Walker), Chrysocharis parksi, Asecodes deluchii, dan Neochrysocharis okazakii, 4) penggunaan insektisida sintetis siromazin, emamektin benzoat, kartap, dan spinosad, dan 5) penggunaan insektisida nabati seperti Agonal 866 atau Nisela 866, Tigonal 866 atau Kisela 866, Phronal 966, dan Bisela 866. Kata kunci: Bawang merah, pengorok daun, Liriomyza chinensis, bioekologi, pengendalian hama ABSTRACT Bioecology and management of leaf miner (Liriomyza chinensis) Kato (Diptera: Agromyzidae) on onion In recent years, onion farmers in Palu Valley were very fidgety by the attack of leaf miner (Liriomyza chinensis), which often resulted in failed harvests. The existence of this pest in Palu Valley began to be reported in 2007. Leaf miner damages the new-develop leaves of onion plants until the plants grow-old. An adult female lays eggs between 50-300 eggs. The color of egg was clear white with size of 0.28 mm x 0.15 mm. Egg stage was 2-4 days. Larvae consist of three instars, larval period ranged between 6-12 days. The size of third instar larvae was 3.5 mm. Pupal stage ranged between 11-12 days. Pupae were generally found in the ground or attached to the inner surface of the cavity scallions. Adult length was 1.7-2.3 mm. Adult females were able to live for 6-14 days, while adult males can live for 3-9 days. The life cycle of L. chinensis was about 3 weeks. The main host plants of L. chinensis were the onion, garlic, and leek. Several control methods for L. chinensis were as follow: 1) cultural practices, including planting on dry season, crop rotation, and use of resistant varieties like Kuning 19, Bima, Sumenep, and Bauji, 2) the use of yellow sticky trap and walking trap, 3) the use of natural enemies, including parasites Halticoptera circulus (Walker), Chrysocharis parksi, Asecodes deluchii, and Neochrysocharis okazakii, 4) the use of synthetic insecticides, i.e. cyromazine, emamectin benzoate, cartap, and spinosad, and 5) the use of plant sap insecticides, i.e. Agonal 866 or Nisela 866, Tigonal 866 or Kisela 866, Phronal 966, and Bisela 866. Keywords: Onion, leaf miner, Liriomyza chinensis, bioecology, pest control B awang merah merupakan komoditas unggulan spesifik Sulawesi Tengah yang mempunyai prospek untuk dikem- bangkan. Komoditas unggulan spesifik daerah adalah komoditas yang dapat tumbuh dan berkembang baik (reveal by evidence) karena dukungan kondisi ta- nah dan iklim yang spesifik di daerah tersebut. Oleh karena itu, produktivitas dan mutu hasilnya juga sangat spesifik yang tidak dapat dicapai di daerah lain. Potensi produktivitas bawang merah berdasarkan hasil pengkajian adalah 7 t/ ha, namun produktivitas di tingkat petani masih rendah dan berfluktuasi antara 1–5 t/ha. Salah satu faktor utama penyebab rendahnya produktivitas adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Dalam beberapa tahun terakhir, petani bawang merah di daerah Lembah Palu, Sulawesi Tengah, resah karena adanya