Konsep al-Nabiy al-Ummi> dan Implikasinya pada Penulisan Rasm. 1 Oleh: Eva Nugraha 2 Abstract The concept of al-nabiy al-ummi> has existed since the beginning of Islam. Muhammad declared himself as al-nabiy al-ummi, both in the Qur'an or Hadith. However, Muslim scholars disagree, is al-ummi> means illiterate or literate. Through the linguistic and historical approach, this paper would like to test the question "whether the concept of al-nabiy al-ummi> implications for writing qur’anic orthography (rasm) on it’s tawqi> fi> or is}tila>h}i> ?” Keyword: Muhammad pubh, al-ummi> , rasm. A. Pendahuluan Kajian ini bukanlah seuatu yang baru, sejumlah orang sudah membahasnya, seperti, Zwemer, 3 Goldfeld, 4 Athamina 5 . Bagi kaum muslim, penjelasan mengenai keummian Muhammad seringkali disandarkan pada keterjagaan al-Qur’an dari pengaruh tulisan dan ideologi manusia. Sebagian lagi menjadikan keummian sebagai bagian dari kemukjijatan al-Qur’an. Bagi sebagian peneliti Barat, term keummian ini merupakan sesutu yang mustahil. Di antara mereka yang memandang bahwa Nabi Muhammad bisa 1 Draft awal makalah ini merupakan tugas akhir matakuliah Hadith dan sirah Nabawi, dan telah diserahkan sebagai bagian dari artikel pada jurnal Refleksi,Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk terbit akhir tahun 2011. 2 Mahasiswa program Doktor Kajian Islam Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, angkatan 2010. Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3 Ia termasuk orang yang mempertanyakan apakah Nabi Muhammad bisa menulis dan membaca. Dia menyandarkan asumsinya pada penelitian yang telah dilakukan oleh Wellhausen, Wustenfeid, Cheikho, Lammens, Huart. Mereka menyatakan bahwa riwayat yang menyatakan ilmu membaca tidak diketahui pada bangsa Arab kecuali setelah diintrodusir oleh Harb (ayah dari Abu Sufyan) memiliki tingkat ketidak akuratan. Bagi mereka, kemungkinan orang Arab sudah memahami tulisan karena kontaks perdagangan antara mekah dengan Yaman telah terjadi sejak lama. Samuel Marinus Zwemer, “The ‘Illiterate’ Prophet” dalam The Muslim World, 11: 344–363. doi: 10.1111/j.1478-1913.1921. tb01870.x pada http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1478-1913.1921.tb01870.x/abstract ; Lihat Buku: Samuel Marinus Zwemer, Studies in Popular Islam: a collection of papers dealing with the superstitions and beliefs of the common people (The Sheldon Press, 1939), 100-120. 4 Isaiah Goldfeld, “The Illiterate Prophet (nabi ummi): An Inquiry into the Development of a Dogma in Islamic Tradition,” dalam Der Islam 57 (1980): 58-67. Kutipan diambil dari Walid A Saleh, "The Arabian Context of Muhammad's Life" dalam Jonathan E Brockopp (ed.),The Cambridge Companion to Muhammad (Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 33. 5 Khalil Athamina, “‘An-Nabiyy al-Ummiyy’: An Inquiry into the Meaning of a Qur’anic Verse,” dalam Der Islam 69 (1992): 61–80. Kutipan diambil dari: Daniel A. Madigan, “Mary and Muhammad: Bearers of the Word” dalam The Australasian Catholic Record 80:4 (Oct., 2003), 417-427.