Prosiding Seminar Nasional BAHASA DAN SASTRA DALAM PERSPEKTIF MULTIKULTURAL.2010. Surabaya: Prodi Sastra Inggris UTM dan Lima-lima Jaya 1 BAHASA MASYARAKAT INDONESIA TERKINI DALAM GRAFITI (Kajian Teks Dan Konteks Wacana Grafiti di Terminal Bungurasih) Iqbal Nurul Azhar 1 Abstrak: Pengalaman, maupun masalah sehari-hari masyarakat yang bersifat komunal dapat pula menentukan variasi bahasa yang terjadi di dalam sebuah kebudayaan. Masyarakat yang sedang berada dalam titik emosional tertinggi seperti sedang marah atau sedih akan menghasilkan tuturan yang berhubungan dengan kemarahan dan kesedihan. Demikian juga masyarakat yang sedang berada dalam tekanan krisis ekonomi tentunya akan menghasilkan tuturan-tuturan baru yang berhubungan dengan dunia ekonomi atau bisnis. Dengan bersandar pada pernyataan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa bahasa (meskipun tidak selalu), sanggup menjadi representer dari kondisi masyarakat sebuah kebudayaan. Grafiti (Latrinal) sebagai salah satu bentuk bahasa tulis, seakan menegaskan hal ini. Dengan melihat fenomena grafiti yang ada di toilet umum, kita dapat melihat potret bangsa Indonesia yang ternyata sangat ”unik” Kata-kata Kuni : bisnis, grafiti, teks, konteks A. Pendahuluan Banyak karya sastra yang ditulis baik oleh orang Indonesia maupun orang asing memotret sisi-sisi natural Indonesia. Beberapa diantaranya berhubungan dengan dunia politik dan dunia ekonomi seperti: Schwarz (2004), Santoso (2003), Sulistyo, Achwan & Soetrisno (2002), Effendy (2003), kondisi sosial bangsa Indonesia seperti: Winarta (2004), Herlijanto (2003), serta kondisi budaya yang termasuk di dalamnya dunia sastra dan segala isinya seperti: Aveling (2001), dan Jordaan (1997). Sayangnya diantara karya- karya tulis tentang Indonesia tersebut, sangat sedikit dijumpai karya sastra khusus mengulas grafiti di Indonesia, utamanya grafiti yang terdapat di toilet umum dalam perspektif linguistik. Sedikitnya tulisan yang mengupas tentang grafiti di toilet umum ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain; (a) adanya anggapan bahwa grafiti di toilet adalah produk dari tangan-tangan orang-orang yang kurang paham tentang kebersihan sehingga tidak layak untuk didiskusikan, (b) grafiti di toilet umum adalah produk orang-orang yang tidak terpelajar dan karenanya mengandung makna dangkal atau rendah, (c) dan adanya anggapan bahwa toilet umum adalah tempat yang kurang bersahabat untuk dijadikan bahan diskusi apalagi dalam bentuk sebuah artikel formal. 1 Dosen FISIB Universitas Trunojoyo