Jurnal MEDAN BAHASA Volume 5 Nomor 1 Juli 2010 1 VARIASI MAKNA DALAM SURAT KABAR Iqbal Nurul Azhar Puspa Ruriana A. Pendahuluan Bahasa adalah sebuah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh masyarakat untuk tujuan komunikasi. Sifat arbitrer dalam bahasa ini menurut Chaer (1989:32), dengan menggunakan istilah De Saussure, diartikan bahwa tidak ada hubungan spesifik antara deretan fonem pembentuk kata dengan maknanya. Dengan demikian, tidak ada hubungan langsung antara yang diartikan (signifie) dengan yang mengartikan (signifiant). Demikian juga menurut Lyon (1977:96), dengan meminjam istilah segitiga semiotik, tidak ada hubungan langsung antara lambang (symbol) dengan acuan (referent). Tidak ada alasan yang kuat mengapa konsep tertentu harus dihubungkan dengan dengan lambang yang berwujud deretan bunyi atau deretan huruf Umpamanya tanda linguistik lisan yang dieja ”laptop,” tanda ini terdiri dari unsur makna atau diartikan ’laptop’ dan unsur bunyi yang mengartikan dalam wujud runtutan fonem [l, a, p, p, t, o, p], atau tanda linguistik tulisan ”laptop” yang terdiri dari unsur makna atau diartikan ’laptop’ dan unsur huruf yang mengartikan dalam wujud runtutan huruf l, a, p, t, o, p, tanda ini ini mengacu kepada suatu referen yang berada di luar bahasa, yaitu laptop sebagai salah satu alat elektronik berjenis komputer, yang biasanya digunakan untuk mengetik. Dengan demikian, kata laptop adalah hal yang menandai (tanda linguistik) dan sebuah laptop sebagai alat elektronik (konsep) adalah hal yang ditandai. Kearbriteran makna membuat bahasa manusia menjadi kreatif. Manusia tidak hanya mampu menciptakan kata-kata baru, mereka juga mampu memainkan sebuah kata, atau frasa, atau kalimat untuk merujuk pada sebuah objek yang berbeda. Seperti contoh kata ”virus,” yang berarti benda organik yang ukurannya sangat kecil dan berbahaya bagi tubuh karena dapat menyebabkan manusia sakit, dengan kekreatifitasan manusia yang ditunjang oleh kearbriteraran bahasa mereka, dapat digunakan tidak hanya konteks