BAB IV NASIONALISME DI PERBATASAN DALAM PERTARUHAN: Potret Puncak Gunung Kebangsaan di Krayan Nunukan Oleh: Syafuan Rozi “...Jika dalam waktu 5 tahun tidak ada perbaikan jalan ke Krayan dari Indonesia, Jangan salahkan kami jika patok batas berpindah ke Malaysia…”. (Pernyataan Ketua Adat Besar Krayan, YB, Long Bawan, 2013) A. Pengantar Sebagai pembuka tulisan ini ada pertanyaan tentang bagaimana kita akan mengukur kadar kebangsaan penduduk kita di perbatasan darat Indonesia- Malaysia? Sebagai contoh sederhana ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menimbang posisi politik identitas dan kebangsaan suatu penduduk seperti bagaimana pengetahuan (kognisi) mereka tentang simbol kebangsaan –bendera, lagu kebangsaan, pahlawan nasional, ibu kota Negara, dan seterusnya-, selanjutnya indikator psiko-motorik, bagaimana mereka berpihak dan bertindak untuk nasion (keindonesiaan) sehari-hari atau terhadap issu tertentu menyangkut hubungan sesame bangsa atau antarbangsa; dan indikator posisi afeksi dan afiliasi penduduk perbatasan: misalnya dengan pertanyaan bagaimana posisi kejiwaan dan hati mereka bergerak dan menuju untuk dapat diidentifikasi menjadi bagian nasion yang mana. Untuk suatu konteks peristiwa mereka lebih merasa bangga dan bahagia menjadi bagian identitas Negara yang mana. Identitas itu apakah bersifat tunggal, mendua atau cair sifatnya. Untuk menggambarkan bagaimana kondisi nasionalisme di perbatasan Krayan, ada kecenderungan sebagian penduduk perbatasan di Krayan yang ada sangat pro Indonesia –hati dan jiwanya ada di Krayan, Indonesia, namun selebihnya cenderung berafiliasi ke nasion Malaysia, kebutuhan fisik dan nasibnya mereka gantungkan ke Malaysia. Singkat kata, ‘Nasionalisme di perbatasan Krayan dalam pertaruhan‘ dan ada kecenderungan gejala politik indentitas berganda sebagai ‘puncak gunung es kebangsaan semu’ di Krayan. Dengan wacana berpindahnya tapal batas jika tidak diperhatikan oleh negara adalah satu preposisi atau pernyataan politis untuk mengungkapkan dan menjawab posisi nasionalisme mereka yang sebenarnya. Hal ini dapat menjawab secara lugas tentang pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana kondisi politik identitas dan jati diri keindonesiaan, ke-borneo-an dan ke-satu Malaysia-an, yang berkembang berkelit dan berkelindan di sebagian dan seluruh penduduk komunitas perbatasan darat Krayan Nunukan, Kalimantan Utara, Indonesia dengan wilayah Negara jiran, Serawak, Malaysia. Gejala politik indentitas berganda terjadi di Krayan, ketika mereka merayakan secara sangat spesial, perayaan 17 Agustus setiap tahunnya, namun sebagian mereka telah berdiaspora ke wilayah Malaysia. Sebagian warga dayak Lundayeh asal Krayan, telah memiliki kartu penduduk (IC, Identity Card) Malaysia, untuk mempermudah 1