1 KONSEP KAWASAN MANDIRI ENERGI PERKOTAAN (Lokasi Studi: Permukiman Danau Seha di Palangkaraya, Kalimantan Tengah) Ave Harysakti (Pascasarjana Arsitektur Lingkungan Binaan, Universitas Brawijaya) 1. Pendahuluan 1.1. Kondisi Energi Kelistrikan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah Indonesia sebagai negara kepulauan mengalami sangat banyak hambatan dalam mengembangkan ketenagalistrikannya. Sampai dengan tahun 2011, rasio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 72,95% dari total 62 juta rumah tangga nasional. Jadi masih terdapat kurang lebih 19 juta rumah tangga yang belum mendapatkan akses tenaga listrik (ESDM, 2012 p12). Adapun sumber energi yang diandalkan sebagai pasokan utama konversi energi adalah sumber energi fosil yaitu minyak bumi, batubara dan gas. Sebagaimana kita ketahui kenyataannya bahwa sumber energi fosil ini semakin lama semakin berkurang dan diikuti dengan harga yang akan terus meningkat. Kita ketahui pula bahwa energi listrik ini sangat berperan penting bagi masyarakat dalam mereka menjalani kehidupan sehari-hari serta berperan dalam proses pembangunan. Kehidupan rata-rata masyarakat perkotaan dan sebagian perdesaan yang telah terjangkau listrik di era modern ini hampir semua peralatan sehari-harinya menggunakan alat elektronik yang sumber dayanya menggunakan energi listrik. Jika terjadi kekurangan pasokan listrik maka akan sangat mempengaruhi kualitas kehidupan sehari-hari bagi masyarakat. Sejak beberapa tahun terakhir ini seiring dengan berkembangnya Kota Palangkaraya melalui pertumbuhan penduduk, kawasan permukiman, industri dan ekonomi mengakibatkan terjadinya kekurangan pasokan listrik di Kota Palangkaraya sehingga sering terjadinya pemadaman secara bergilir. Menurut PT.PLN (2012a p1), total kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik di wilayah Kalimantan Tengah adalah sebesar 78,05 MW dengan daya mampu pembangkit 53,67 MW, beban puncak sebesar 58,40 MW sehingga cadangan operasi (reserve margin) sebesar 19,65 MW (25%) yang artinya margin standar keandalan sistem tidak tercapai karena selisih daya dan kebutuhan sangat kecil sehingga rentan terjadi krisis energi listrik. Lebih detail lagi untuk Kota Palangkaraya menurut data BPS Kalteng (2012 p252), daya listrik terpasang sebesar 68,16 KW dengan daya mampu 48,35 KW, beban puncak sebesar 35,95 KW sehingga cadangan operasi diperoleh hanya sebesar 8,4 KW (12%). Sedangkan menurut PT.PLN (2012b p205), cadangan operasional (reserve margin) yang ideal bagi ketenagalistrikan adalah 30% dari total daya mampu jaringan, jika kurang dari itu maka akan mengakibatkan operator tidak memiliki keleluasaan dalam mengatur distribusi energi listrik pada jaringannya. Berdasarkan nilai statistik ketenagalistrikan di atas dapat dipastikan bahwa pasokan listrik untuk Kota Palangkaraya sangatlah pas-pasan sehingga tidaklah mengherankan pemadaman listrik sering terjadi di kota ini yang imbasnya mempengaruhi aktivitas dan menghambat produktivitas masyarakatnya. Pemadaman listrik ini seringkali terjadi apabila terjadi gangguan pada salah satu pembangkit listrik Sistem Barito (PLTU Asam-Asam, PLTA