Seminar Antropologi Globalisasi dan Kebudayaan Lokal: Suatu Dialektika menuju Indonesia Baru, Jurnal Antropologi Indonesia: Kerjsama Antropologi UI dan Universitas Andalas Padang, 18-21 Juli 2001 1 Peran Pasar bagi Perubahan Sosial Orang Rimba Oleh Adi Prasetijo 1 Pendahuluan Pada umumnya kesan masyarakat luas di Sumatra melihat Orang Rimba 2 sebagai suatu masyarakat yang tertutup defensif adalah tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataan mereka telah menjadi mata rantai panjang perdagangan yang terjadi di Selat Malaka beberapa abad yang lalu. Mereka mempunyai sejarah perdagangan yang panjang dengan orang Melayu, melalui peran waris dan jenang. Mereka melakukan barter dengan waris dan jenang. Waris, bagi Orang Rimba dipandang sebagai orang yang dianggap masih memiliki hubungan keturunan dengan Orang Rimba atau keluarga mereka, sedangkan jenang adalah orang Melayu yang dipercaya oleh Orang Rimba dan Kesultanan Melayu Jambi sebagai penghubung mereka dengan orang luar. Sesuai dengan fungsi dan tugasnya, waris dan jenang berperan menjadi pintu pembuka hubungan Orang Rimba dengan dunia luar sejak berabad-abad yang lalu. Pasar sebagai sebuah institusi sosial dan tempat bertemunya penjual pembeli, mengenalkan nila- nilai budaya baru kepada Orang Rimba. Pasar membawa perubahan nilai-nilai kultural Orang Rimba yang mengacu pada nilai-nilai interaksinya dengan waris dan jenang. Pasar juga membawa perubahan dimensi ekonomi, ketika produk mereka tidak lagi bernilai tinggi di pasaran dunia. 1 Penulis mahasiswa S2 Antropologi UI. 2 Istilah Orang Rimba digunakan untuk menggantikan istilah Orang Kubu, sebab selain istilah sebutan bagi diri mereka sendiri dalam bahasa mereka sehari-hari, juga mempunyai nuansa HAM, penghormatan jati diri kesukuan mereka. Lebih lanjut baca artikel Robert Aritonang dlm ASP No.2/6/1999. . Orang Rimba di Jambi pada thn. 1999 berjumlah kurang lebih 2.670 jiwa tersebar di 3 wilayah, di daerah bagian barat Propinsi Jambi ( sekitar jalan lintas timur Sumatra), Taman Nasional Bukit 12, dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Memang dibandingkan dua daerah lainnya, yaitu sekitar jalan lintas timur Sumatra dan TNBT, TN Bukit 12 dapat dikatakan sebagai pusat “kebudayaan” Orang Rimba. Tidak kurang ada 1046 jiwa yang berdiam di Bukit 12. Selebihnya 1.524 jiwa atau 60 % hidup di sekitar Bukit 30 dan kebun-kebun karet serta sawit transmigrasi sekitar jalan lintas timur Sumatra, Padang – Lampung. Lebih Lanjut baca lap. Bank Dunia oleh Sandbukt dan Warsi, 1998.