Page | 1 BERKREASI DENGAN PUISI 1 Sarip Hidayat, M.Hum. 2 A. Pengantar Menurut Rusyana (2005), substansi mata pelajaran sastra adalah hasil sastra. Di dalamnya terdapat pengalaman hidup yang tersusun dalam wujud bahasa berupa karya seni sastra. Untuk itu, seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam hal pengalaman bersastra dan memiliki pengetahuan tentang sastra. Pengalaman bersastra dapat berupa kegiatan apresiasi, ekspresi, atau kreasi sastra. Adapun pengetahuan guru terhadap sastra minimalnya berhubungan dengan wujud, sifat, jenis, konteks zaman, dan konteks masyarakat. Setelah mengetahui hal-hal yang semestinya telah menjadi kompetensi seorang guru sastra, langkah selanjutnya adalah membelajarkan anak didik dengan karya sastra sesuai dengan tujuan-tujuan yang diharapkan dalam kurikulum. Dalam hal ini, mari lupakan sejenak kekhawatiran kita terkait kemampuan siswa dalam menjawab soal-soal UN. Untuk meraih tujuan tersebut, kita memerlukan berbagai alternatif pembelajaran sastra yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa kita dalam bersastra. Dalam kesempatan ini, penulis mencoba memberikan salah satu alternatif pembelajaran yang mungkin dapat diterapkan di kelas. Tentu saja, langkah-langkah ini dapat dikembangkan maupun dimodifikasi sesuai keinginan para guru dan siswa. B. Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis Puisi Ada empat langkah yang dapat kita lakukan ketika akan mencoba menulis puisi. Keempat langkah tersebut adalah pengenalan tradisi perpuisian, pengolahan bahan baku puisi, pengalaman puitik, dan penulisan puisi. Berikut ini adalah penjelasan mengenai keempat langkah tersebut. 1. Pengenalan Tradisi Perpuisian Setiap generasi dalam kesusastraan Indonesia memunculkan sastrawan-sastrawan yang kemudian menjadi ikon zamannya. Kita mengenal Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Gunawan Muhamad, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Hamid Jabbar, Afrizal Malna, Joko Pinurbo, dan sebagainya sebagai sastrawan-sastrawan yang karya-karyanya banyak diperbincangkan dan dijadikan rujukan. Layaknya pemegang tongkat estafet, sastrawan hari ini adalah penerus sastrawan-sastrawan terdahulu. Calon sastrawan yang sedang berproses adalah penerus generasi sebelumnya. Bagaimana caranya agar siswa mengenal dan mengetahui peta perjalanan kesusastraan Indonesia dan tokoh-tokoh yang memiliki andil di dalamnya? Cara yang dapat dilakukan adalah dengan membawa siswa ke perpustakaan. Tugas mereka adalah membaca buku-buku puisi karya sastrawan Indonesia dari berbagai angkatan dan mengapresiasinya. Dari hasil pembacaan tersebut diharapkan siswa mampu membedakan berbagai perbedaan penggunaan bahasa oleh setiap sastrawan. Selanjutnya, deklamasikan, diskusikan isinya, kalau perlu musikalisasikan dengan cara yang menyenangkan dan mengasyikkan. Dengan mengenal tradisi perpuisian tersebut, setidaknya siswa dan kita dapat memahami bahwa tradisi itu adalah bagian dari perkembangan sejarah bangsa kita. Dengan mengenal sejarah, kita dapat belajar mengenai kehidupan masa lalu untuk menjadi cerminan masa depan dan kita dapat mulai melanjutkan dan merintis sejarah kita dimulai hari ini untuk dikenang di kemudian hari sebagai saksi sejarah perpuisian Indonesia di abad XI. 1 Makalah disajikan dalam kegiatan Penyuluhan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Guru-Guru Bahasa Indonesia SMP dan MTs sekota Cimahi tanggal 20 Mei 2013 di Hotel Endah Parahyangan, Cimahi. 2 Penulis adalah Staf Peneliti di Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat. Menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Pendidikan Indonesia dan S-2 di Universitas Indonesia. Nama pena penulis dalam menulis puisi adalah Moh. Syarif Hidayat. Buku kumpulan puisi yang pernah dibuat adalah antologi bersama Ketika Matahari…(1998), Graffiti Grattitude (1998). Angin Malam (2005).